Adakah yang ingin mengambil pelajaran?

Malam itu, terdengar riuh gemuruh suara ratusan juta pasang mata tertuju pada satu titik di wilayah Senayan. Pada saat yang bersamaan, aku pun hendak melangkahkan kaki keluar rumah menuju sebuah masjid untuk mengisi ta’lim.

 

“Umi sayang, hari ini Indonesia akan mempertaruhkan gengsinya melawan Malaysia di GBK, kira-kira banyak jamaah yang datang ga ya?” Tanyaku.

 

“Suamiku tercinta, walaupun hanya satu orang yang hadir, cintaku ga boleh patah arang untuk berda’wah. Ok?” Jawab istriku penuh cinta. Rona kemesraan begitu terpancar dari senyumnya yang menenangkan jiwa. Subhanallah wal hamdulillah, puji syukur kehadirat engkau ya Rabb yang telah memberikan kepadaku seorang istri yang dapat aku ajak berlari bersama di jalan dakwah ini.

 

Setelah shalat maghrib berjamaah, sebagian besar jamaah segera berhambur keluar. Alhamdulillah, jamaah utama Masjid Al Faruq masih bergeming* di tempat duduknya. Setelah salam, ucapan tahmid dan shalawat aku pun memulai kajian.

 

“Bapak-bapak yang dirahmati Allah, 15 menit lagi peluit pertandingan final AFF antara Indonesia dan Malaysia akan segera ditiup,” kataku, “Dan kita tetap berada di masjid ini untuk menuntut ilmu. Inilah pengorbanan!”

 

“Kita doakan, semoga sahabat-sahabat kita yang mendukung tim kebanggaannya itu tetap memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada Allah.”

 

Walladzina amanuu asy syaddu hubbalillah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat besar cintanya kepada Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang begitu besar cintanya kepada Allah.”

 

Selama kajian berlangsung, tidak sekali dua kali di selingi dengan teriakan yang terdengar dari berbagai sisi masjid. Gooolll!!!! Aaaah!!!! Yaaahhhh!!! Masjid Al Faruq memang berada di tengah-tengah pemukiman warga. Tentu saja antusias warga yang sedang menyaksikan pertandingan terakhir Piala AFF terdengar begitu memecah keheningan malam.

 

Setelah isya aku pulang ke rumah. Masih ada satu babak tersisa ternyata. Istriku sudah menyambutku dengan teh hangat dan santap makan malam.

 

“Suamiku sayang, gimana tadi kajiannya?” Tanya istriku seraya membawakan teh hangat dengan kedua tangannya yang mungil.

 

“Masih ada satu babak, Sayang, kalau abi mau nonton,” lanjut istriku.

 

“Cinta, setelah makan malam, dari pada nonton bola, abi ceritain Umi kisah tentang Martus, Nairawis, Dainamus, Maksalaminaya, Qalus, dan Kastumis. Umi mau?” Tanyaku.

 

“Mau, Sayang. Tapi siapa mereka, Abi? Umi belum pernah mendengar nama-nama itu sebelumnya. Jadi penasaran deh, Bi,” jawab istriku.

 

“Iiiih, Sayang, muka Umi lucu banget sih kalau penasaran seperti itu. Ngegemesin banget deh, Umi!” Candaku sambil menyentuh lembut hidung istriku.

 

“Abi apaan sih. Paling bisa deh,” balas istriku dengan manja.

 

Akhirnya aku pun mulai menceritakan kisah ashabul kahfi kepada istriku.

 

Istriku tampak kebingungan ketika aku mengaitkan kisah ashabul kahfi dengan teori quantum yang aku pelajari saat aku menyelesaikan pendidikan masterku di Belanda. Setelah aku bercerita dan menjawab pertanyaan istiku yang super duper amat banyak sekali tentang ashabul kahfi, istriku pun tertidur lelap. Lelah sekali kulihat wajahnya. Begitu setianya dia melayaniku dengan ikhlash. “Ya Rabbi, terimalah amal kebaikan istriku, ampunkanlah dosanya, jadikanlah ia sebagai penyejuk hatiku,” ucapku dalam hati. Kukecup keningnya.

 

Aku kembali sejenak ke ruang tengah. Cukup bagiku untuk sekadar mengetahui hasil akhir pertandingan final tadi. Indonesia mengalahkan Malaysia dengan skor 2 – 1, tetapi hal itu tidak cukup untuk mengantar Firman Utina mengangkat Piala AFF.

 

Ah, aku teringat firman Allah surat Al An’am ayat 59, “Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfudz).”

 

Tinta sudah mengering. Pena sudah diangkat.

 

Subhanallah … Ayat tersebut begitu indah. Begitu sastra. Penuh rasa dan makna.

 

Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Bila kita menganggap sesuatu hal itu adalah kebetulan, rasa-rasanya kita mengingkari ayat tersebut. Sering kali ketika kita butuh pertolongan dan ada teman kita yang datang tanpa kita duga, kita dengan spontan mengatakan, “Wah, kebetulan ada anta, Akhi!” Alangkah lebih pantasnya jika kita berucap, “Alhamdulillah, ada anta, Akhi!”

 

Dan, hanya Allah lah yang mengetahui perkara-perkara ghaib. Apalah hebatnya seekor gurita? Dan tidak sedikit pula yang percaya akan hal itu.

 

Belum lagi pawang hujan yang ikut mengamankan stadion. Sebelum pertandingan digelar, seorang petinggi PSSI mengatakan, “Hujan itu kehendak Allah. Tapi kita berusaha dengan segala cara sendiri!” (sumber dari sini)

 

Cara sendiri? Cara seperti apa? Tidak sekalian saja berucap, “Jodoh itu kehendak Tuhan. Tapi saya berusaha dengan santet!” Atau juga, “Rizki itu kehendak Tuhan. Tapi saya berusaha dengan pesugihan!” Atau juga seorang mahasiswa berkata, “Nilai itu kehendak Tuhan. Tapi saya berusaha dengan nyontek!”

Read the rest of this entry »

Penyesalan Berkekalan

Bismillahirrahmaanirrahiim.

 

“Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira bahwa kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun kembali jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus…..” (QS. Al – Qiyamah:1-5)

 

Penyesalan hadir dalam kehidupan manusia sebagai bagian yang seyogyanya tidak mengenakkan. Penyesalan terhadap usaha yang kurang maksimal, penyesalan terhadap salah kata atau perbuatan, penyesalan yang berbuah pengandaian… ‘seandainya dulu…..’, ‘seandainya kemarin….’, ‘seandainya tadi…..’

 

Penyesalan – penyesalan yang begitu jelas. Penyesalan yang ada di hadapan. Cepat datang dan pergi. Penyesalan yang masih mengenal ‘tidak ada kata terlambat untuk berubah’. Penyesalan yang masih mengenal ‘perbaikan’.

 

Namun penyesalan ghaib membutuhkan penerangan hati. Penyesalan yang tidak satupun orang di muka bumi ini pernah merasai. Penyesalan yang tidak satupun jiwa bisa menceritakan pengalamannya sendiri tentang betapa dahsyatnya penyesalan. Penyesalan yang hanya Allah mengetahui.

 

Penyesalan hari kegagalan di hari akhir. Penyesalan para ahli neraka. Penyesalan orang – orang yang sombong merasa kehidupan dunianya cukup membaikkan timbangan tanpa mengindahkan peringatan. Penyesalan orang – orang yang di hari akhir mendapati ‘tidak berguna lagi mengingat itu baginya’…..

 

“.. dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini’. Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS. Al-Fajr:23 – 26)

Read the rest of this entry »

Ketika Ketentuan Allah bertentangan dengan Logika

Ketika Ketentuan Allah bertentangan dengan logika

 

“….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukup-kan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS. Al-Maidah:3)

 

 

Bismillahirrahmaanirrahiim

 

Assalamu’alaykum wr wb.

 

.. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan…..

 

Prolog

Dalam artikelnya yang berjudul “Manusia untuk sebuah cita – cita”, Anis Matta menuliskan bahwa keislaman kaum muslimin saat ini banyak dibentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman dan kesadaran yang mendalam tentang Islam itu sendiri.

 

Ada sebuah kejadian yang sedikit menggelitik. Beberapa minggu yang lalu Saya sedang berkunjung ke salah satu kedai minuman. Kebetulan waktu itu sudah masuk waktu shalat, maka Saya pun bertanya kepada salah satu pelayannya kalau – kalau disediakan tempat shalat. Ketika Saya bertanya kepada beliau, di depan Saya yang waktu itu insyaAllah menutup aurat dari ujung kepala sampai ujung kuku kaki, beliau pun menjawab “Tempat shalatnya ada Mba, tapi nggak ada mukenanya”. Saya pun tersenyum dan menjawab “Masih perlu mukena Mba?” sambil menunjukkan pakaian Saya dan tersenyum. Kemudian pelayannya pun hanya tersipu.

 

Kejadian seperti itu bukan yang pertama terjadi, dan mungkin dialami juga oleh muslimah lain. Hal tersebut membenarkan fakta tentang adanya suatu pola ibadah yang timbul bukan karena pemahaman, melainkan karena warisan lingkungan sosial. Warisannya adalah, kalau mau shalat, maka perempuan harus menggunakan mukena. Padahal pada hakikatnya yang diwajibkan adalah menutup aurat, bukan pakai mukenanya. Singkatnya, kalau sudah menutup aurat, kenapa harus pakai mukena? Kecuali kalau hanya untuk sekedar kenyamanan. Suatu fenomena yang menarik, namun miris di saat yang bersamaan.

 

Dari cerita pengantar tadi, semoga bisa tergambar bagaimana pemahaman Islam yang ada pada mayoritas muslim saat ini banyak sekali yang terbentuk dari budaya, warisan sosial, ataupun kebiasaan masyarakat. Sementara  Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai sumber aslinya banyak terlupakan, sehingga lambat laun garis pemisah antara yang hak dan yang batil pun semakin bias.

Read the rest of this entry »

Sang Pemenang!

Pertandingan masih berlangsung. Beberapa menit lagi tersisa.

 

Bila Allah menakdirkan Indonesia menang, jika seluruh makhluk di dunia ini bersekutu tidak akan dapat mengubahnya. Demikian juga jika Allah menakdirkan Malaysia yang membawa trophy AFF, siapapun tidak ada yang dapat menolaknya.

 

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Kami jelaskan yang demikian itu agar kamu tidak terlalu berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan agar kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

 

QS Al Hadid : 22 – 23

 

Tugas kita hanya ikhtiar dan tawakal. Itu saja!

 

Jika kita gagal, bersabarlah. Itu baik bagi kita. Jika kita berhasil, bersyukurlah. Itu baik bagi kita.

 

Tidak ada sabar tanpa syukur. Tiada syukur tanpa kesabaran.

 

Siapa pun yang berhak membawa trophy AFF, aku tidak menyebut mereka Sang Pemenang!

Read the rest of this entry »

Dawai-dawai Cinta

Entah berapa lirik lagi yang harus kutulis. Entah berapa nada lagi yang harus kurangkai. Puluhan tahun aku jalani hidupku sebagai seorang pembuat lagu. Tidak sedikit penyanyi yang meminta aku untuk membuatkan lagu untuk mereka. Banyak juga produser film yang menawarkan kontrak bernilai ratusan juta rupiah agar aku yang menggarap sound track film-film mereka.

 

Aku memiliki kebiasaan rutin tahunan. Setiap bulan Ramadhan, aku menolak semua kontrak. Aku hanya ingin konsentrasi penuh untuk penghambaan diriku kepada Tuhan Yang Maha Indah. Demikian dengan Ramadhan kali ini.

 

Malam ini begitu teduh. Syahdu. Aku yakin suasana itu dapat menambah kekhusyuan jamaah tarawih malam ini. Terlebih lagi Ramadhan kali ini sebuah kabar gembira datang untuk kami jamaah masjid. Setiap tarawih akan didatangkan hufaz quran untuk mengimami shalat kami. Satu malam satu juz. Alhamdulillah!

 

Sudah sekian malam tarawih kami begitu tentram. Khuysu. Damai. Tidak jarang imam menangis ketika mengimami kami. Pun aku ikut menangis walaupun aku tidak mengerti maksud ayat imam tersebut.

 

Ramadhan kali ini membuatku memiliki kebiasaan baru menjelang tidur. Membaca terjemah quran. Aku penasaran dengan ayat-ayat yang dibacakan imam sehingga imam menangis dalam shalatnya. “Om, aku sudah membaca terjemah quran dari juz 1 sampai juz 25. Hampir setahun aku melakukan itu, Om. Satu hari satu lembar quran terjemah. Lumayan, Om, aku jadi sedikit demi sedikit mengetahui isi dari quran, Om. Mudah-mudahan tahun ini aku bisa khatam membaca terjemah quran!” Ujar keponakanku yang baru pulang dari Belanda. Aku heran sama dia, program studi apa yang dia ambil di sana. Setahu aku di sana dia mengambil program master untuk teknik. Tapi sesampainya di Indonesia dia lebih banyak bicara agama. Entah.

 

Dan lagi-lagi malam ini sang imam menangis dengan tersedu-sedu. Derai air mata yang membasahi. Degup jantung yang begitu menyentak.

Read the rest of this entry »

Salsabila di Lengkung Purnama

Bismillaahirrahmaanirrahiim.Wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa ‘aalihi wa sahbihii wa sallam …

 

Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwal,wa ‘alaa fadlikal-‘azimi wa juudila-mu’awwali,wa hazaa ‘aamun jadidun qad aqbala nas’alukal ‘ismata fiihi minasy-syaitaani,wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haazihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i, wal-isytigaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa zal-jalaali wal-ikraamin.Yaa arhamar-raahimiin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidinaa wa maulaanaa Muhammadiw wa ‘alaa ‘aalihi wa ashaabihii wa sallam.Amin yaa rabbal ‘alamin …

 

Ya Allah, Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal.Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung. Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajakpada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kamikepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungankami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarganya dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin …

 

 

“Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.” QS an Nur : 44

 

Tidak sedikit dari kita ketika merenungi perjalanan jiwa yang lemah ini mengatakan bahwa ‘kita baik-baik saja’ dan ‘hampir semua target kehidupan telah terlaksana’. Sementara itu Allah berfirman,

 

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya. ” QS al-Kahfi: 104

 

Hanya segelintir orang yang menyeimbangkan proses perjalanannya untuk kehidupan dunia dan akhirat sementara sebagian besar yang lain hanya konsentrasi pada titik kehidupan dunia. Renungan-renungan pergantian waktu bertumpu pada target-target dunia.

 

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS Al Hasyr : 18–19.

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”

 

Esok? Kenapa Allah menggunakan kata ‘hari esok‘?

 

Lho, bukankah kenyataannya bahwa hidup di dunia ini hanya ‘sehari’ atau ‘setengah hari’ atau ‘bagai siang hari dan petang’? (lihat catatan Ranjau Petir – Inception dan Imajinasi Berketuhanan)

 

Dari Syadad bin Aus ra, dari Rasulullah saw, bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.”

 

HR Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’

 

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ‘dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Muhasabah tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan. (lihat catatan Setia Furqon Kholid – Ini jalan saya. Mana jalanmu?)

 

Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia. – Umar bin Khatab ra

 

Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya. – Maimun bin Mihran ra

 

“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” QS Maryam : 95

Read the rest of this entry »

Cinta dan Pengorbanan

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah. Allahumma shali ‘ala muhammad.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh Ikhwan wa Akhwat fillah yang dirahmati Allah SWT,

Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan Dzulhijjah 1431 H dan kita akan segera memasuki tahun baru 1432 H. Sebelum meninggalkan bulan Dzulhijjah, mari sama-sama kita muhasabah, kita introspeksi diri kita, serta mencoba mengambil hikmah pengorbanan yang terserak di bulan Dzulhijjah ini.

Ketika kita mencintai sesuatu kita akan berkorban untuk sesuatu tersebut, dengan senang hati.

Ketika kita mengingikan mendapatkan gelar akademis ataupun sebuah pekerjaan untuk masa depan kita, masa depan suami atau istri dan anak-anak kita, untuk kehidupan kita dan keluarga kita, kita akan mengorbankan banyak hal, seperti waktu yang kita miliki, harta benda kita, energi kita, dan seterusnya. Kita terus berkorban dan berjuang untuk sesuatu yang kita inginkan atau kita cintai tersebut. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

Kita mencintai orang tua, suami atau istri, dan anak kita, serta saudara kita misalnya. Ketika anak kita mengalami suatu kecelakaan dan membutuhkan banyak darah, kita pun dengan senang hati untuk mendonorkan darah kita. Ketika orang tua kita membutuhkan mata, kita pun sebagai anak-anaknya dengan rela memberikan mata kita. Ketika suami atau istri kita didiagnosa dan membutuhkan ginjal, kita pun ikhlas menjadi orang pertama yang akan memberikan ginjal kita. Pengorbanan terlahir otomatis begitu saja seiring dengan rasa cinta yang kita miliki, dengan rasa senang hati dan rela. Aku harap demikian pengorbanan kita atas apa yang kita cintai. Atau kita masih berpikir ribuan kali untuk memberikan darah, mata, ataupun ginjal kita bagi orang tua atau keluarga kita? Semoga saja tidak.

Dari Anas bin Malik ra, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”. (HR Bukhari dan Muslim)

Pertanyaannya sekarang, apa yang telah kita korbankan untuk agama kita, Islam, untuk Allah dan Rasul saw? Bukankah kita menyatakan bahwa kita cinta Islam, kita cinta Allah dan Rasul? Banyak kan kita temukan di profile Facebook teman-teman kita atau bahkan profile Facebook kita menuliskan “I Love Islam”, “I Love Allah”, dan “I Love Muhammad saw”? Bagaimana pengorbanan kita? Jangan-jangan kita hanya ngomong doank. Jangan-jangan nih, antara lisan, hati, dan perbuatan kita tidak sejalan. Na’udzubillah. Read the rest of this entry »

Akhi, are you going to Mecca?

Dalam sebuah hadis yang sangat indah Rasulullah bersabda, “Barang siapa mendirikan salat subuh secara berjamaah, kemudian duduk mengingat Allah hingga matahari terbit, kemudian salat dua rakaat (setelah syurq), maka ia mendapatkan pahala seperti pahala sekali haji dan umrah secara sempurna, sempurna, sempurna.”

(HR Tirmidzi)

 

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh …

Ikhwan wa Akhwat fillah yang dirahmati Allah SWT,

Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah.

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”

(HR Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas)

 

“Sesungguhnya hari yang paling mulia di sisi Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah hari an nahr (Idul Adha) kemudian yaumul qorr (hari setelah hari an nahr).”

(HR Abu Daud no. 1765)

 

Ikhwan wa Akhwat fillah yang dicintai Allah,

Ketika kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan Dzulhijah, apa yang harus kita lakukan? Ikhwan wa Akhwat fillah, Dzulhijah tidak datang setiap saat. Pun demikian dengan Ramadhan. Jika di bulan Ramadhan kita merasa belum maksimal, inilah kesempatan kita untuk memperbaiki ibadah kita kepada Allah, hanya semata-mata karena Allah. Setidaknya ada 6 amalan yang dapat kita lakukan.

  Read the rest of this entry »

Syair Kehidupan …

Aku masih saja sulit untuk memejamkan mata. Sudah pukul dua pagi kulihat jam di dinding kamarku. Sebuah pertanyaan yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Tentang kehidupan. Ya, kehidupan.

Kuperhatikan beberapa temanku dalam kesehariannya disibukkan dengan bermain PlayStation. Sebagian yang lain begitu bersemangatnya men-download film-film dan musik. Ada juga yang sangat gemar bermain game online, Facebook, dan lain-lain. Segelintir yang lain tidak pernah puas membicarakan mobil dan motor hasil modifikasi. Di samping itu, ada sedikit teman, terhitung dengan jari sebelah tangan, memiliki hobi membaca dan menulis. Ada juga yang sibuk di organisasi kampus ataupun dakwah. Sebagian yang lain juga ada yang sibuk dalam urusan-urusan agama.

Mereka semua itu teman-teman satu angkatanku di kampus. Semua punya kesibukan yang berbeda-beda selain kuliah.

Itulah yang aku pikirkan. Ya, hidup itu sebuah pilihan. Pilihan. Dalam setiap detik yang kita lalui merupakan sebuah pilihan. Setiap detik yang kita lewati akan memiliki akibat pada detik-detik selanjutnya. Yang masih menjadi tanda tanya bagiku, apa yang mendasari orang-orang itu menentukan pilihan hidupnya dalam setiap detik yang dilaluinya. Apa yang mendasari sebagian teman-temanku yang kerjanya hanya bermain-main? Apa pula yang mendorong sebagian temanku yang lain untuk sibuk di berbagai kegiatan organisasi kampus? Aku tidak ingin mencampuri, tapi aku rasa mereka pun memiliki alasan-alasan kuat dalam menentukan langkah apa yang harus di ambil dalam setiap detik hidup mereka.

Tapi aku masih tetap tidak dapat menutup rapat kedua kelopak mataku. Kedua mataku masih terbuka. Masih berpikir satu hal, tentang sebuah nasihat yang aku dengar dari ceramah jumat kemarin di masjid kampus. Tentang tujuan hidup. Di dalam ceramah itu disampaikan oleh Sang Khatib bahwa Allah menciptakan kita tidak lain hanya untuk beribadah. Hanya untuk ibadah. Titik. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada pilihan kedua. Hanya satu. Ibadah. Ayat yang disampaikan oleh Sang Khatib, menurutku hampir semua orang Islam sudah mengetahuinya. Tapi apakah mereka benar-benar memahami maksud ayat tersebut?

“Banyak orang mengetahui persamaan Einstein bahwa E=mc^2. Tapi apakah mereka paham esensi persamaan tersebut?” Read the rest of this entry »

What After Ramadhan?

Aku bukanlah seorang ustadz yang terkenal. Apalagi seorang yang memiliki banyak ilmu. Tidak sama sekali.

Aku juga bukan seorang yang istiqomah dalam ketaatan. Aku tidak munafik. Tapi jujur, aku juga ingin istiqomah di jalan Allah.

Aku hanya seseorang manusia biasa, yang Allah takdirkan untuk ‘lebih sering’ datang ke masjid untuk sholat dibandingkan anak-anak seusiaku.

Aku juga hanya seorang manusia biasa, yang Allah takdirkan ‘lebih senang’ menghadiri ceramah-ceramah agama dan ‘lebih suka’ mengkaji kitab-kitab dibandingkan dengan teman-teman sepermainanku.

Aku pun tidak lebih pintar dari temanku yang bersekolah di kampus-kampus agama. Hanya saja, Allah takdirkan aku lebih menonjol dari pada mereka.

Aku Abdulllah. Maaf, semua manusia juga abdullah🙂

Namaku Daud. Sebuah nama yang cukup mendunia sepertinya. Di negeri barat juga banyak yang memiliki nama seperti namaku. Namun, mereka menyebut namaku dengan sebutan David.

Nama itu pemberian dari pamanku. Namaku memiliki sejarah juga ternyata. Kata ayahku, waktu itu paman ‘tidak sengaja’ sholat isya di masjid pinggiran kota Jogja. Saat itu ada sebuah kajian agama. Si penceramah saat itu menyampaikan sebuah hadis, “Rasulullah saw bersabda, ‘Di dalam al Quran terdapat 30 ayat, yang akan memberikan syafaat bagi seorang laki-laki hingga diampuni. Surat itu adalah tabarakalladzi biyadihil mulk (Surat Al Mulk).” Apa hubungannya dengan ‘Daud’, namaku? Ternyata hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud. Tapi setelah mendengar hadis itu, pamanku menghafalkan Surat Al Mulk. Kalau kata bibi, istri pamanku, “Pamanmu itu, Ndo, klo sholat bacanya Surat Al Mulk melulu … Lama-lama bibi jadi hafal, Ndo …”

Ramadhan baru saja berlalu. Baru 7 hari berlalu. Jamaah isya hari ini hanya 4 orang; Ustadz Fawaz, aku, pak RT, dan Iqbal. Sepertinya itulah jamaah tetap masjid di tempat tinggalku. Kadang kali cuma bertiga; Ustadz Fawaz, pak RT, dan Iqbal. Aku kemana? Nah, itu dia tadi, aku juga bukan seorang yang istiqomah dalam ketaatan. Tapi aku juga ingin bisa istiqomah seperti Ustadz Fawaz, pak RT, dan Iqbal yang hampir tidak pernah tertinggal takbiratul ihram.

Iqbal lebih muda 2 tahun dari aku. Dia juga tidak memliki latar pendidikan agama. Hanya saja dia rajin untuk sholat di masjid. Sepertinya hati dia sudah terkait dengan rumah Allah. Setelah sholat Iqbal mendekati aku. “Bang, ini di bulan Syawal jamaah pada kemana ya?” tanya Iqbal.

“Yah Bal, ga cuma tahun ini. Dari dulu juga gitu. Masjid ramainya pas Romadhon doank,” jawabku.

“Wiets, Bro Daud. What after Ramadhan?”

“Syawal ya, Akhi!”

“Artinya Syawal apa coba, Bang?”

“Meningkat!” jawabku.

“Nah, kan! Syawal itu artinya meningkat. Seharusnya kan kita meningkat, Bang! Taqwa kita meningkat, sholat kita tambah rajin, baca Quran tambah semangat. Lah sekarang gimana coba, Bang? Taqwa kita turun, sholat juga udah mulai akhir waktu, Quran juga boro-boro bang dibaca, dilirik juga ga, Bang!” urai Iqbal.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Gitu Daud, Iqbal, kata Allah di surat Ar Ra’du ayat 11,” tiba-tiba Ustadz Fawaz menimpali percakapan kami.

“Daud, Iqbal, kamu pernah ga ngeliat seseorang yang sedang menyulam sebuah sweater, setelah sweater selesai disulam, orang itu mengambil gunting dan kemudian menggunting sweater yang baru saja diselesaikannya sampai rusak?” tanya Ustadz Fawaz.

“Menurut kamu, kalau melihat orang seperti itu bagaimana?” lanjut Ustadz Fawaz.

Kita baru saja meninggalkan bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, penuh ampunan, dan penuh rahmat dari Allah SWT.

Apakah kita telah memenuhi persyaratan dan lulus dengan predikat taqwa?

Ikhwan wa Akhwat yang disayangi Allah SWT,

Betapa banyak orang yang sudah berjuang di bulan Ramadhan akan tetapi setelah Ramadhan pergi mereka kembali kepada keadaan awal mereka ,,, Bahkan juga banyak yang menjadi lebih buruk dari sebelumnya …

Bila kita amati keadaan setelah Ramadhan, kita akan menemukan berbagai hal sebagai berikut :

  1. Orang-orang meninggalkan shalat berjamaah di masjid, padahal ketika Ramadhan, paling tidak mereka hadir ketika shalat isya dan tarawih. Kemanakah mereka? Atau pertanyaannya seperti ini, kemanakah kita?
  2. Banyak orang yang kembali kepada kebiasaan mereka yang ketika Ramadhan mereka hindari, seperti meninggalkan hal-hal tidak bermanfaat dan hal-hal yang menjauhkan diri kita dari Allah SWT. Kenapa demikian?

 

Dan, apakah kita yakin ibadah kita di bulan Ramadhan itu diterima wahai Ikhwan dan Akhwat fillah?

Bukankah para sahabat nabi terus berdoa kepada Allah selama 6 bulan setelah Ramadhan agar ibadah mereka di terima? Apakah kita lebih sholeh, lebih bertaqwa, dan lebih ikhlash dari sahabat nabi? Jika kita merasa benar, merasa sudah cukup amal kita, merasa sudah taqwa, sudah merasa mencintai Allah dan Rosul lebih dari apapun “… maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar …” (QS Al Jumuah : 6)

 

Ikhwan wa Akhwat fillah yang dirahmati Allah, mungkin kita lupa dengan ayat 99 surat Al Hijr,

” … dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”

 

Kenyataannya, setelah memasuki bulan Syawal masjid menjadi sepi kembali, rasa syukur, sabar, ikhlas, dan istiqomah tidak juga meningkat, maka boleh saja dikatakan, bahwa puasa tidak mendapatkan apa-apa.

“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.”

HR Ibnu Majah

 

Jika berpuasa di bulan Ramadhan sudah berakhir, masih ada puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa ayamul bid (puasa 3 hari di tengah bulan), puasa Asyura, puasa Arafah, dan lain-lain.

“Barangsiapa berpuasa ramadan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, pahalanya seperti puasa setahun.”

HR Muslim

 

Jika tarawih di bulan Ramadhan sudah berakhir, masih ada shalat dhuha, tahajud, witir 1 rakaat sebelum tidur (ringan banget kan?), dan lain-lain.

Dari Abu Darda ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan ketiga hal itu selama saya masih hidup, yaitu menunaikan puasa tiga hari pada setiap bulan, mengerjakan sholat dhuha, dan tidak tidur sebelum menunaikan sholat witir.”

HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i

 

Jika kita sudah menunaikan zakat fitri di bulan Ramadhan, kita bisa melakukan infaq, sedekah, atau memberi hadiah.

Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.

QS Al Baqarah : 261

 

Jika kita sudah khatam Quran di bulan Ramadhan, bukan berarti kita tinggalkan al Quran tergeletak begitu saja kan?

“Bacalah Al Quran sesungguhnya ia datang dihari kiamat sebagai syafaat bagi pembacanya.”

HR Muslim

 

Jika kita di bulan Ramadhan bisa menjaga diri kita dari maksiat kepada Allah, kenapa di luar Ramadhan kita kembali kepada kemaksiatan?

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (QS Ali Imran : 147)

Rabban taqabbal minna … Shiyamana ,,, wa Sholatana … innaka anta sami’un alim … wa tub ‘alayna innaka anta tawwaburrahim …

Semoga tetap semangat ya ^^

Tim Moodis

Tim Moodis mengucapakan “Taqabalallahu minna wa minkum … Minal aidin wal faizin”🙂

« Older entries