Ta’aruf – Sebuah proses awal penempatan cinta dalam tempat yang baik dan benar

Bismillah …

Assalamu’alaykum …

Sahabat Moodis yang dirahmati Allah …

Cinta merupakan konsep yang paling penting dan agung dalam Islam. Cinta atau mahabah atau hubb memiliki peranan yang penting dalam Islam sehingga dapat ditegaskan bahwa kecintaan atau cinta merupakan azas keimanan seseorang. Rosulullah dalam suatu hadist yang sangat terkenal bertanya kepada para sahabat tentang apakah iman yang sejati. Sahabat tidak mampu menjawab pertanyaan itu, kemudian Rasulullah bersabda:

“Iman yang sempurna adalah mencintai semata-mata karena Allah, membenci semata-mata karena Allah, menjadi kekasih Allah sebagai kekasihNya, dan membenci sesuatu yang dibenci-Nya.”

Sahabat Moodis yang dicintai Allah …

Note sebelumnya telah membahas sebuah tema yang sangat menarik yaitu ‘Pacaran dalam Islam’ dan sampailah pada sebuah kesimpulan bahwa pacaran itu. Kenapa? Karena di surat Al Isra ayat 32 Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al Isra 32)

Nah, klo kita hayati ayat ini dengan seksama, ayat ini berisi tentang larangan Allah … Sahabat Moodis pasti tau kan apa itu orang yang bertaqwa? Yaitu orang-orang yang menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah … ^^

Klo sesuatu udah dilarang sama Allah, trus kita masih tetep aja ngelakuinnya, berarti … Berarti kita tidak bertaqwa ,,, bener kan? Wah, ternyata kita harus banyak-banyak introspeksi diri ya …

Nah, sekarang kita udah tau kalau yang namanya pacaran itu haram, tidak boleh dilakukan, merupakan larangan dari Allah, trus gimana donk klo sekarang kita masih melakukan hal itu? Tentunya kita harus segera bertaubat, selagi hayat masih di kandung badan dan selama ruh belum sampai kerongkongan ,,,

Allah berfirman dalam surat Ali Imran : 133 – 135 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” Semangat ya! Mari kita sama-sama bersegera mencari ampunan dari Allah yang sangat luas. Semoga Allah memberikan kebaikan di sisa umur kita yang singkat ini … Amin …

Sahabat Moodis yang dirahmati Allah,

Sekarang muncul sebuah pertanyaan. Trus gimana donk klo kita suka sama seseorang? Suka dengan lawan jenis?


Cinta itu fitrah. Dan, sebagai seorang muslim sudah sepatutnya apapun yang kita lakukan semata-mata hanya karena Allah SWT. Begitu pun halnya dengan mencintai seseorang. O. Sholihin, penulis buku Jangan Nodai Cinta, mengatakan, “Jika kita mencintai seseorang karena Allah, sudah seharusnya kita menempatkan cinta sesuai dengan aturan-aturan Allah.” Seperti apa sih cinta yang sesuai dengan aturan Allah?

Rosulullah saw bersabda “Wahai pemuda, barangsiapa diantara kamu yang telah sanggup untuk menikah, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu akan lebih menundukkan pandangan dan lebih membentengi kehormatan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu adalah merupakan tameng.” (HR Bukhori – Muslim)

Nah, Sahabat Moodis, pilihanya cuma ada 2 tuh untuk orang yang saling mencintai … Menikah atau puasa ,,, itu aja … Menikah atau puasa ^^ Tidak ada pilihan ketiga ,,, Tidak ada pilihan ‘pacaran’ … Tidak ada pilihan ‘sayang-sayangan’ atau ‘kangen-kangenan’ dengan seseorang yang bukan mahram.

Masih inget kan tadi surat Al Isra ayat 32? Pacaran itu dosa lho … Tapi justru yang juga sering terjadi niy, ada yang menawarkan diri untuk bantuin nyariin pacar ,,, Astaghfirullah … “Lo jomblo men? Mau gw cariin pacar ga?” Ooppss hati-hati lho ,,, Itu sama aja dengan menawarkan perbuatan dosa ke orang lain …

Dan, emang ya … Yang namanya bisikan setan begitu halus … Kadang kita tanpa sadar, dan sering kali kita merasa melakukan hal yang terkesan biasa aja, padahal itu adalah kemaksiatan … Misalnya, kita SMS-an, YM dengan lawan jenis, telepon-teleponan … Hati-hati, kita bisa terjebak dalam kategori ‘berkhalwat’ atau berdua-duaan dengan seseorang yang bukan mahramnya. “Dari Jabir bin Abdillah r.a : ‘Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.’ (HR. Ahmad) … Tuh kan, klo kita berkhalwat, hati-hati juga lho, berarti kita tidak beriman kepada Allah dan hari akhir … Dan, sekarang ini banyak banget ya hal-hal seperti kita temukan ,,, Semoga Allah menjauhi kita dari perbuatan zina … Amiiin … Dalam sebuah hadits, Rosulullah bersabda, “Telah ditulis bagi setiap Bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah(lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara kalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluan lah yang membenarkan atau mendustakan.”

Bisikan-bisikan setan itu baru berasal dari dalam diri kita, belum lagi “pengikut-pengikut” setan yang banyak beredar di sekeliling kita … Kita lihat teman kita dengan bangganya berkata, “Kenalin nih, pacar gw!” Innalillahi … “Lo masih jomblo aje men! Cari pacar lah!” Astaghfirullah ,,, berarti dia menyuruh kepada kemunkaran …

Sahabat Moodis tidak perlu khawatir mau di bilang ga laku atau apa pun, Allah SWT justru cinta kepada hamba-hamba-Nya yang ingin menjaga diri dan kehormatannya. Jadi teringat sebuah adegn di film Ketika Cinta Bertasbih ketika Azzam menolak Mba El dan berkata, “Setiap orang punya prinsip … Prinsip saya berdasarkan Quran dan Sunnah ,,, terserah orang lain mau bilang saya kampungan, ketinggalan zaman, atau primitif sekalipun, yang penting saya bangga, saya bahagia dengan prinsip yang saya pegang …” Subhanallah ya ,,, kalau orang udah yakin sama Allah dan hari akhir, apa aja enteng lah … Sami’na waatho’na … Kami dengar dan kami taat … walaupun badai menghadang, prinsip Islam tetap digenggam dengan erat … ^^

Sahabat Moodis yang dirahmati Allah …

Sekarang masalahnya begini, misalnya ada Sahabat Moodis yang mau atau udah siap nikah, tapi pasangannya belum ada ,,, Gimana donk? Cari pacar dulu? Kan ga boleh tuh pacaran … Jadi gimana donk? Nah, Islam dengan sangat indah mengatur ini semua ,,, Rosul bersabda, “Menikah adalah bagian dari sunnahku, barang siapa membenci sunnahku maka tidak termasuk golonganku.” (HR Bukhori). Sebagaimana menikah adalah sunnah Rosul maka tentunya Rosul pun mengajarkan tata caranya, prosesinya dari awal sampai pernikahan … ^^

Dan, gimana sih proses mencari pasangan yang syar’i itu? Kalau Sahabat Moodis sudah punya seseorang yang ingin dinikahi niy, misalnya udah kenal satu sama lain (tapi bukan pacaran lho … misalnya temen SMP, atau teman SMA, atau gimana gitu) mungkin ga terlalu sulit ya ,,, tinggal propose aja … hehe ,,, tapi inget Al Isra ayat 32, jangan dekati zina, jangan berkhalwat! Sekarang, gimana kalau kita belum tahu, belum kenal dengan calon pasangan kita ,,, apa yang harus kita lakukan? Tapi tetep dalam frame syar’i … Jawabannya adalah ta’aruf!

Apa tuh ta’aruf? Allah berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”

Ta’aruf berarti ‘perkenalan’, kalau dihubungkan dengan pernikahan maka ta’aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta’aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses berikutnya. Pada tahapan ini setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri, cocok atau tidak dengan dirinya.
Dalam proses ta’aruf, apa aja sih yang harus diungkapkan kepada sang calon? Setidaknya ada 4 hal niy, yaitu :

1. Keadaan Keluarga

Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah saudara, anak keberapa, tentang pendidikannya, pekerjaannya, dan lain-lain.

2. Harapan dan Prinsip Hidup

Warna kehidupan kelak ditentukan dengan visi misi suatu keluarga lho, terutama sang suami karena ia adalah qowwam (pemimpin) dalam suatu keluarga. Sebagai pemimpin ia laksana nahkoda sebuah bahtera, mau jalannya lempeng atau sradak-sruduk, itu adalah kemahirannya dalam memegang kemudi. Karena itu setiap calon pasangan harus tau harapan dan prinsip hidup masing-masing. Misalnya nih, “Jika kau menjadi istriku nanti, harapanku semoga kita semakin dekat kepada Allah” atau “Jika kau menjadi istriku nanti, mari bersama mewujudkan keluarga sakinah, rahmah, mawaddah.” Kalo harapan dan janjinya seperti ini, kudu’ diterima tuh, insya Allah janjinya disaksikan Allah SWT dan para malaikat. ^^

3. Kesukaan dan Yang Tidak Disukai

Dari awal sebaiknya dijelaskan apa yang disukai, atau apa yang kurang disukai, jadinya nanti pada saat menjalani kehidupan rumah tangga bisa saling memahami, karena toh udah dijelaskan dari awalnya. Dalam pelayaran bahtera rumah tangga butuh saling pengertian, contoh sederhananya, istri yang suka masakan pedas sekali-kali masaknya jangan terlalu pedas, karena suaminya kurang suka. Suami yang emang hobinya berantakin rumah karena lama jadi bujangan, setelah menikah mungkin bisa belajar lebih rapi, dan lain-lain. Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta’aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentu wajar aja kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa, dan menjadi lebih baik tentunya.🙂

4. Ketaqwaan Calon Pasangan

Apa yang terpenting pada saat ta’aruf? Yang mestinya menduduki prioritas tertinggi adalah bagaimana nilai ketaqwaan lelaki tersebut. Ketaqwaan disini adalah ketaatan kepada Allah. Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak akan berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah… yang begini ini nih, ‘calon suami kesayangan Allah dan mertua.’ ^^ Rosulullah bersabda, “Wanita itu biasanya dinikahi karena empat perkara karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang memiliki agama. Bila tidak, engkau celaka.” (HR. Bukhari Muslim)

Sahabat Moodis, kita harus ingat juga, ta’aruf hanyalah proses mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya khitbah. Nah kadang jadi ‘penyakit’ nih, karena alasan “Kan masih mau ta’aruf dulu…” lalu ta’rufnya banyak banget, sana-sini dita’arufin. Abis itu jadi bingung sendiri, “Yang mana ya yang mau diajak nikah, kok sana-sini ada kurangnya?” Wah … kalo nyari yang mulia seperti Khadijah, setaqwa Aisyah atau setabah Fatimah Az-Zahra, pertanyaannya apakah diri ini sesempurna Rasulullah SAW atau sesholeh Ali bin Abi Thalib r.a.? Nah lho…!!!

Sahabat Moodis yang dirahmati Allah …

Banyak juga yang bertanya, “Kenapa sih ta’aruf?”

Pertama, ta’aruf itu sebenarnya hanya untuk penjajakan sebelum menikah. Jadi kalau salah satu atau keduanya nggak merasa sreg bisa menyudahi ta’arufnya. Ini lebih baik daripada orang yang pacaran lalu putus. Biasanya orang yang pacaran hatinya sudah bertaut sehingga kalau tidak cocok sulit putus dan terasa menyakitkan. Tapi ta’aruf, yang Insya Allah niatnya untuk menikah Lillahi Ta’ala, kalau tidak cocok bertawakal saja, mungkin memang bukan jodoh. Tidak ada pihak yang dirugikan maupun merugikan.

Kedua, ta’aruf itu lebih fair. Masa penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing baik kebaikan maupun keburukannya. Bahkan kalau kita tidurnya sering mendengkur, misalnya, sebaiknya diberitahukan kepada calon kita agar tidak menimbukan kekecewaan di kemudian hari. Begitu pula dengan kekurangan-kekurangan lainnya, seperti mengidap penyakit tertentu, enggak bisa masak, atau yang lainnya. Informasi bukan cuma dari si calon langsung, tapi juga dari orang-orang yang mengenalnya (sahabat, guru ngaji, orang tua si calon). Jadi si calon enggak bisa ngaku-ngaku dirinya baik. Ini berbeda dengan orang pacaran yang biasanya semu dan penuh kepura-puraan. Yang perempuan akan dandan habis-habisan dan malu-malu (sampai makan pun jadi sedikit). Yang laki-laki biarpun lagi ga punya uang tetap berlagak kaya dengan traktir ini itu (padahal dapet duit dari minjem temen atau hasil minta dari orang tua).

Ketiga, dengan ta’aruf kita bisa berusaha mengenal calon dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal ini bisa terjadi karena kedua belah pihak telah siap menikah dan siap membuka diri baik kelebihan maupun kekurangan. Ini kan penghematan waktu yang besar. Coba bandingkan dengan orang pacaran yang sudah lama pacarannya sering tetap merasa belum bisa mengenal pasangannya. Bukankah sia-sia belaka?

Keempat, melalui ta’aruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang kita inginkan. Kalau ada hal-hal yang cocok Alhamdulillah tapi kalau ada yang kurang sreg bisa dipertimbangan dengan memakai hati dan pikiran yang sehat. Keputusan akhir pun tetap berdasarkan dialog dengan Allah melalui sholat istikharah. Berbeda dengan orang yang mabuk cinta dan pacaran. Kadang hal buruk pada pacarnya, misalnya pacarnya suka memukul, suka mabuk, tapi tetap bisa menerima padahal hati kecilnya tidak menyukainya. Tapi karena cinta (atau sebenarnya nafsu) terpaksa menerimanya.

Kelima, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu ta’aruf ke khitbah (lamaran) dan ke akad nikah tidak terlalu lama. Ini bisa menghindarkan kita dari berbagai macam zina termasuk zina hati. Selain itu tidak ada perasaan “digantung” pada pihak perempuan. Karena semuanya sudah jelas tujuannya adalah untuk memenuhi ibadah kepada Allah dan juga sunnah Rasulullah yaitu menikah.
Keenam, dalam ta’aruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan. Jadi kemungkinan berkhalwat (berdua-duaan) kecil yang artinya kita terhindar dari zina.

Nah ternyata ta’aruf banyak kelebihannya dibanding pacaran dan Insya Allah lebih terhindar dari kemaksiatan. Jadi, kita mau mencari kebahagian dunia akhirat dan menggapai ridhoNya atau mencari kesulitan, mencoba-coba melanggar dan mendapat murkaNya?

Sahabat Moodis, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita …

Nah, begitulah sekilas tentang ta’aruf. Di dalam proses ta’aruf, ada satu proses yang disebut dengan nadzor … Apa sih nadzor itu? Nadzor yang merupakan bahasa Arab berasal dari bentu dasar nadzoro – yandzuru artinya ‘memperhatikan’ … Beda ya antara melihat dan memperhatikan … Kalau memperhatikan berarti melihat dengan detail🙂

Dalam sebuah riwayat diceritakan, dari Mughiroh bin Syu’bah berkata, “Saya telah meminang seorang wanita.” Rosulullah saw kemudian bertanya, “Apakah engkau telah nadzor kepadanya?” Mughiroh menjawab, “Belum ya Rosulullah”. Kemudian Rosulullah bersabda, “Pergilah dan nadzorlah. Dengan nadzor sesungguhnya akan memberikan ketepatan untuk melanggengkan hubungan percintaan diantara kamu.”

Dan satu hadits lagi dari Abu Humaid, Rosulullah saw bersabda, “Apabila seseorang diantara kamu akan meminang seorang wanita maka tidak ada halangan baginya melihat wanita itu hanya dengan alasan meminang.” Dan, batasan nadzor adalah wajah dan telapak tangan wanita. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat An Nuur ayat 31 “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinnya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Dan, kita harus ingat juga bahwa nadzor itu hanya untuk khitbah atau meminang ,,, bukan untuk bersenang-senang memandang wanita … Luruskan niat kita untuk ibadah karena Allah.
Sahabat Moodis yang dicintai Allah …

Tadi kita sudah membahas sedikit tentang ta’aruf. Nah, sebelum berakhir note kali ini, Tim Moodis ingin menyampaikan beberapa tips untuk proses ta’aruf sebagai berikut :

1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya

Lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya. Allah berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al Baqoroh : 216)

Adapun doa istikhoroh berdasarkan hadits Rosulullah sebagai berikut, “Ya Allah, sesungguhnya aku minta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon takdir-Mu dengan kemahakuasaan-Mu, aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau berkuasa, sedang aku tidak berkuasa. Dan Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghoib. Ya Allah, apabila urusan ini baik untukku, dalam agamaku dan penghidupanku dan akibatnya terhadap urusanku di dunia atau akhirat, maka takdirkanlah untukku dan permudahlah bagiku lalu berkahilah bagiku di dalamnya. Dan apabila urusan ini buruk untukku, dalam agamaku dan penghidupanku dan akibatnya terhadap urusanku di dunia atau akhirat, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya dan takdirkanlah untukku kebaikan bagaimanapun keadaannya lalu buatlah aku ridho dengannya.” (HR Bukhori)

2.Menentukan waktu ta’aruf dengan calon

Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf , beserta mahromnya pastinya ,,, Tidak boleh berdua ya ^^

3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya

Saling bertanyalah sedalam-dalamnya, bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Jangan sungkan-sungkan pada tahap ini.

4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga calon

Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Namun ingat, ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah.

5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya

Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah.

6.Menentukan Waktu Khitbah

Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besarnya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena khawatir menimbulkan fitnah.

7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan

Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.

Baarokallahu laka wa baaroka ’alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin ^_^

Sahabat Moodis yang dirahmati Allah …

Semoga dari yang sedikit ini bermanfaat. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua. Amin. Cinta kepada makhluk jangan sampai melebihi cinta kita kepada Allah dan Rosul-Nya. Sudah selayaknya kita bersyukur kepada Allah, kita masih diberi kesempatan hidup untuk bertaubat dan selalu berusaha untuk dekat dengan-Nya.

Semoga Allah ridho … Semoga Allah mengampuni …

Wassalamu’alaykum …

Fiamanillah,

Bumi Allah, 02/28/2010
11:33 am
Muhammad Salman Alfatih -Tim Moodis-

Referensi :

http://menikahsunnah.wordpress.com
http://www.eramuslim.com
http://razzahra.multiply.com
Densus As-Sakhrasy Note FB
http://baitijannati.wordpress.com
Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat
http://alqiyamah.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: