Renungan Menuju Ramadhan : Pedang-Pedang Dusta

Assalamu’alaykum ikhwan wa akhwat fillah,

Semoga rahmat Allah senantiasa bersama kita semua … Amiin ,,,

Puji syukur kehadirat Allah atas nikmat yang tiada tara, yang sangat berharga, yaitu nikmat iman dan nikmat Islam. Sesungguhnya, hanya dengan keimanan dan ke-Islamanlah yang menolong kita nanti di hari akhir kelak.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”
QS Ali Imran : 102

Sholawat serta salam semoga senantiasa terucap oleh kita kepada nabi kita, nabi akhir zaman, Nabi Muhammad saw.

“Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebut, dia tidak membaca shalawat kepadaku.”
HR Tirmidzi

Ikhwan wa akhwat yang dirahmati Allah,

Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban wa balighna romadhon … Ya Allah, berikanlah kami keberkahan di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami di bulan Romadhon … Amiin …

Tanpa terasa, kita sudah mulai memasuki penghujung bulan Rajab. Dan, tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Sya’ban dan semoga … Semoga Allah memperkenankan kita berjumpa dengan bulan Romadhon, bulan penuh rahmat dan penuh ampunan dari Allah SWT.

Ikhwan wa akhwat fillah,

Dalam berinteraksi dengan sesama, kita sadari atau kita tidak sadari, sengaja ataupun tidak sengaja, sering kali kita berbuat salah. Ada baiknya, mari kita renungkan sejenak, kita tundukkan hati kita, apa saja yang telah kita perbuat selama ini dalam hubungan kita dengan sesama manusia.

Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya, dari Hudzaifah ra berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga tukang fitnah.”

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Apakah kamu tahu siapakah sejahat-jahat orang diantara kamu?” Jawab sahabat : “Allah SWT dan Rasulullah saw yang lebih tahu.” Rasulullah saw bersabda : “Sejahat-jahat kamu ialah orang yang bermuka dua, yang menghadap ke sini dengan wajah yang satu dan datang ke sana dengan wajah yang lain.”

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
QS Al Hujurat : 12

Ikhwah wa akhwat yang dicintai dan disayang Allah…

Relakah kalau diri kita jadi sasaran celaan orang lain? Maukah kita kalau kakak atau adik kandung kita menjadi buah bibir masyarakat terhadap kekeliruan yang dilakukannya? Bagaimana perasaan kita kalau ada orang membuka aib kita di depan orang banyak? Kalau kita tidak suka itu semua, semua orang pun tidak menyukainya, bukan? Kita, sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya mencintai saudara kita seaqidah. Apakah kita rela menyakiti orang-orang yang kita cintai?

Dari Anas bin Malik ra, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.
HR Bukhari dan Muslim

Karena itulah, Allah SWT Yang Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, memperingatkan sejak awal akan bahaya-bahaya lisan, seperti fitnah, ghibah (menggunjing), membuka aib seseorang, dan namimah (adu domba). Peringatan Allah diungkapkan dengan bahasa komunikasi yang sangat efektif, dengan cara memberikan perumpamaan orang yang menggunjing saudaranya seperti menyantap daging segar saudaranya yang sudah menjadi mayit. Artinya, kalau memakan daging mayit tidak disukai, maka mengapa orang suka membicarakan keburukan dan aib saudaranya?

Sahabat pernah bertanya kepada Baginda Rasulullah saw tentang ghibah. Lalu Beliau menjawab, “Ghibah ialah engkau menyebut-nyebut saudaramu mengenai sesuatu yang ada padanya yang ia tidak suka.” Beliau ditanya lagi, “Bagaimanakah jika yang saya sebutkan itu ada pada saudara saya?” Beliau menjawab, “Jika apa yang kau sebutkan itu ada pada saudaramu berarti engkau telah mengumpatnya, dan jika apa yang kau katakan itu tidak ada padanya berarti engkau telah dusta terhadapnya.” (HR Muslim)

Ikhwan wa akhwat fillah, semoga Allah mempererat ukhuwah kita …

Dikisahkan saat perjalanan Isra Mi’raj, Rasulullah saw diperlihatkan beberapa pemandangan yang mengerikan.

“Pada malam perjalanan Isra Mi’raj, aku diperlihatkan orang-orang yang mencakar-cakar mukanya dengan kuku-kuku tajam mereka, aku bertanya, “Wahai Jibril siapa mereka itu?” Jibril a.s menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang menggunjing orang lain dan membuka aib dirinya.”
HR Abu Daud

Semoga Allah melindungi kita dari azab dan siksa-Nya …

Meskipun ghibah bukan merupakan kaba’ir (dosa besar) tetapi berbuat ghibah menjadi faktor penyebab menimpanya azab kubur kepada pelakunya. Dikisahkan dari Jabir ra, “Ketika kami bersama dengan Rasulullah saw, kami melewati 2 buah makam, seraya Rasulullah saw bersabda, “Mereka berdua sedang disiksa di kubur mereka, bukan karena dosa besar yang dilakukannya, tetapi yang satu karena menggunjing orang lain, sedangkan yang lain tidak bersuci dari hadats kecilnya.”

Karenanya pula Rasulullah saw memberikan peringatan yang keras, sampai-sampai Rosul menyampaikannya dalam sebuah khutbah dengan suara yang menggelegar hingga terdengar sampai kejauhan, “Wahai orang-orang yang percaya kepada lisannya, tapi tidak mempercayai hati nuraninya, jangan kalian menggunjing saudaramu sesama muslim, jangan pula membuka auratnya, karena siapa yang membuka aurat saudaranya niscaya Allah akan membuka aib dirinya, barang siapa yang Allah buka aib dirinya, dia akan mencela dirinya walau di dalam rumahnya.” (HR Ibnu Abid-Dunya, Abu Daud dari hadits Abu Burzah dengan sanad yang jayyid).

Ibnu Abbas menyerukan, “Siapa yang berkeinginan menyebut aib temannya, maka sebutkanlah terlebih dahulu menyebut aib dirinya”. Abu Hurairah pun berkata, “Sungguh mengherankan, ada orang dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak dapat melihat kotoran besar di matanya sendiri.”

Sebagaimana al-Hasan menegaskan, “Kita tidak akan memperoleh lezat dan esensi iman, sampai kita mampu tidak membuka aib saudara kita dengan sebuah aib yang ada pada diri kita, sampai kita juga mampu memperbaiki aib itu dimulai dari diri kita. Jika itu dapat kita lakukan, niscaya kita akan terbiasa menyibukkan diri untuk perbaikan diri kita, dan hal itu yang disukai Allah.”

Ikhwan wa akhwat fillah … Semoga Allah memelihara kita dalam ketaatan kepada-Nya …

Adalah bukti kasih sayang Rasul kita, ketika memberikan arahan tentang bahaya lisan, bahwa kesempurnaan Islam seseorang dilihat dari kebersihan lisan dan tangannya dari bentuk-bentuk gangguan terhadap saudaranya.

(المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده (رواه مسلم

Orang muslim adalah yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
HR Muslim

Di antara bentuk gangguan lisan selain fitnah dan ghibah, adalah namimah, yaitu adu domba. Bentuk namimah tidak sebatas provokasi, tetapi menyebarkan rahasia seseorang juga termasuk namimah, atau memberitahukan orang sesuatu yang tidak disukainya. Kondisi seperti ini hendaknya disikapi dengan sikap yang bijak, yakni tidak menambah penyebaran berita itu, tetapi sebaiknya ia mendiamkan, kecuali pemberitaan sesuatu yang ada manfaat dan maslahatnya bagi muslim atau untuk mencegah bahayanya.

Ketahuilah saudaraku, bahwa setiap yang dilarang dalam Islam, memberikan manfaat besar, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan masyarakat. Ternyata bahaya namimah tidak hanya untuk pribadi pelakunya, tetapi dapat memberikan dampak yang sangat luas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Karenanya Allah swt dan Rasul-Nya memberikan ancaman-ancaman berat bagi para pelaku namimah:

“Jangan kamu taati orang-orang yang mendustakan agama, yaitu yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.”
Al Qalam: 11

“Neraka wail bagi pengumpat atau penyebar fitnah dan pencela.”
Al Humazah : 1

“Tidak akan masuk surga orang yang melakukan namimah.”
HR Imam Bukhari Muslim

“Orang yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang berupaya melakukan ta’lif (menjadi golongan perekat), sedangkan yang paling dibenci Allah adalah orang-orang yang menyebar fitnah, yang memecah persatuan saudaranya, mencari-cari kesalahan orang shalih.”
HR Imam Thabrani

“Maukah kalian aku beritahu orang yang paling buruk di antara kalian? Dia adalah orang yang berjalan berkeliling melakukan namimah, merusak persaudaraan orang-orang yang saling mencintai, dan yang mencari kesalahan orang.”
HR Ahmad

Ikhwan wa akhwat fillah …

Setiap kita pasti tidak suka difitnah, sebagaimana kita juga tidak suka ayah atau ibu atau saudara kita mendapat fitnah, karena itulah orang lain juga tidak senang difitnah dan dibicarakan aib diri mereka.

Untuk itu setiap ada berita kita dengar atau lihat, hendaknya diklarifikasi (tabayyun), jika tidak, maka akan berakibat fatal. Alangkah bijaksananya bila kita merenungi pesan Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
Al Hujurat : 6

Yakinlah, bahwa bimbingan dan arahan Allah dan Rasul-Nya pasti memberikan pencerahan dan kesejahteraan hidup, pada kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan hidup bernegara serta kebaikan bagi peradaban manusia.

Masih ada waktu untuk bertaubat atas kesalahan-kesalahan kita, sebelum ruh sampai kerongkongan.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan-perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, kerana sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa; sesungguhnya Dia lah jua Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
Az Zumar : 53

Ikhwan wa akhwat fillah,

Semoga Allah selalu membimbing kita untuk istiqomah di jalan-Nya … Semoga Allah ridho ,,, Semoga Allah mengampuni … Semoga Allah mempertemukan kita dengan bulan Romadhon ,,, Amiin …

Wassalam …

Fiamanillah,
Muhammad Salman Al Fatih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: