Renungan Menuju Ramadhan : Hikmah Kematian

Assalamu’alaykum warahmatullahi wa barakatuh …

Puji syukur kehadirat Illahi Rabbi … Yang menguasai hari pembalasan ,,, Hari dimana ditampakkan segala kesalahan ,,, Hari dimana tidak ada naungan selain dari-Nya … Hari dimana manusia lupa akan keluarganya, lupa akan sahabat-sahabatnya … Hari dimana hari yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang beriman ,,, Semoga kita menjadi hamba-hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya … Amiiin Allahumma Amiiin ,,,

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

QS Ibrahim : 7

Rasulullah saw, seorang manusia sempurna, suri teladan kita, semoga shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau ,,, Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita untuk memegang kuat sunnah baginda Rosul … Amiiin ,,,

Sahabat Moodis yang dicintai Allah ,,,

“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi.”

HR Al Bukhari

Mungkin kita sudah hafal di luar kepala hadis tersebut. Ya, hafal! Hanya sekedar hafal! Dari sekian banyak ayat-ayat dan hadis, apakah kita sudah mengamalkannya?

Semua pembaca note ini pun sudah hafal surat Al Fatihah, bukan? Apakah kita sudah mengamalkan “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan?”

Kok kita rela ya, kenapa ya kita bisa-bisanya mengabaikan keberadaan Allah? Kok bisa-bisanya ya kita malas mengerjakan sholat ,,, Kok sampai hati ya kita enggan berdzikir dan bersyukur kepada Allah … Kok bisa ya kita sibuk dengan urusan kita sampai-sampai mengabaikan panggilan adzan?

“Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus menerus.”

QS Al Qiyamah : 5

Allahu Akbar ,,, Astaghfirullah … Ampuni kami ya Allah … Ampuni kami ya Rabb ,,,

Ikhwan wa akhwat fillah yang semoga saja Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khatimah …

Allahumma inni asaluka husnul khatimah ,,, wa na’udzubika min su’il khotimah … Amiiin ya Rabb ,,,

Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Sepertinya baru tadi pagi kita membuat sebuah akun di Facebook. Apakah kita tidak menyadari bahwa hari-hari yang kita lewati justru semakin mendekatkan kita kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.”

QS Al Ankabut : 57

Tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.

Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.

Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati. Allah menjelaskan dalam Al Quran tentang perilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

QS Al Jumu’ah : 8

Ikhwan wa akhwat fillah yang dirahmati Allah ,,,

Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!

Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang kita dapat lakukan saat ini. Kita dapat mengedipkan mata, menggerakkan badan, berbicara, tertawa, semua ini merupakan fungsi tubuh kita. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti.

Dimulai saat kita menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, kita tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh kita yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah kita akan di bawa ke kuburan. Sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi kita. Ini adalah kesudahan cerita kita. Mulai saat itu, kita hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.

Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan kita sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.

Sementara itu, keluarga dekat kita akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian kita. Di rumah, ruang dan tempat tidur kita akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik kita akan disimpan di rumah; baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik kita akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas kita di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian kita. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang kita. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi kita yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah kita diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi kita.

Ikhwan wa akhwat yang disayangi Allah ,,, semoga Allah memberikan hidayah kepada kita …

Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah kita dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat kita dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.

Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.

Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali, mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, kita – atau lebih tepatnya, jiwa kita – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari kita – tubuh kita – akan menjadi bagian dari tanah.

Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?

Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting.

Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.

Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya akan kematian. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.

Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi kita membaca artikel ini, kita berharap untuk tidak meninggal setelah kita menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin kita merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya.

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.”

QS Al Ahzab :16

Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.

“Jikalau anak adam mati, putuslah segalanya dengan dunia, kecuali tiga hal, anak yang sholeh, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat.”

HR Bukhori dan Muslim

Dari Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda,”Seorang mukmin selepas kematiannya akan terus mendapat ganjaran daripada amal kebaikannya iaitu melalui ilmu yang dipelajari lalu diajarkan kepada orang lain dan terus disebarkannya. Anak-anak yang salih yang ditinggalkan, Al-Quran yang diwariskan atau masjid-masjid yang dibinanya atau rumah-rumah musafir di perjalanan yang didirikannya atau anak-anak sungai yang dialirinya atau sedekah yang dikeluarkan daripada hartanya ketika sehat dan hidupnya yang berterusan selepas kematiannya (ini berupa wakaf yang berkekalan untuknya).”

HR Ibnu Majah

Ikhwan wa akhwat yang dicintai Allah …

Apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapi kematian?

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai oleh Allah, kamu tidak mengembalikan nyawa itu jika kamu adalah orang-orang yang benar? Adapun jika dia termasuk orang yang didekatkan kepada Allah, maka dia memperoleh ketenteraman dan rezki serta surga. Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. Sesungguhnya yang disebutkan ini adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Maha Besar.”

QS Al Waqi’ah : 83-96

Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban wa balighna romadhon ,,,

Ya Allah ya Rabb ,,, Bulan sabit semakin menipis … Dan, bulan baru akan datang ,,, Jika tidak sampai waktuku, matikan aku dalam keadaan berserah diri kepada-Mu, wahai Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu … Amiiiin ,,,

Masih ada waktu ,,, Masih ada waktu ,,, Selagi ruh belum sampai kerongkongan ,,, Masih ada waktu bagi kita untuk bertaubat ,,, Untuk kembali kepada-Nya …

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

QS At Tahrim : 8

Fiamanillah,

Tim Moodis

Sumber : Harun Yahya Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: