Renungan Menuju Ramadhan : Agar Futur Tidak Menghantui

Assalamu’alaykum warahmatullahi wa barakatuh …

Puji syukur kehadirat Illahi Rabbi … Yang menguasai hari pembalasan ,,, Hari dimana ditampakkan segala kesalahan ,,, Hari dimana tidak ada naungan selain dari-Nya … Hari dimana manusia lupa akan keluarganya, lupa akan sahabat-sahabatnya … Hari dimana hari yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang beriman ,,, Semoga kita menjadi hamba-hamba yang senantiasa bersyukur kepada-Nya … Amiiin Allahumma Amiiin ,,,

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

QS Ibrahim : 7

Rasulullah saw, seorang manusia sempurna, suri teladan kita, semoga shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada beliau ,,, Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita untuk memegang kuat sunnah baginda Rosul … Amiiin ,,,

Ikhwan wa akhwat fillah yang dicintai Allah ,,,

“Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar.”

QS Ali Imran : 146

Pengikut yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana, ujian, ketidakberuntungan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh Allah dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar.

Ada fenomena kelesuan atau futur dalam dimensi aqidah dan umumnya terjadi karena pergeseran orientasi hidup, lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat duniawi. Dan ada juga dalam dimensi ibadah dengan lemahnya kedisiplinan terhadap amaliyah ubudiyah yaumiyah (harian).

Betapa banyak dari kita yang memiliki impian-impian tinggi dan berjuang mati-matian untuk mendapatkan hal-hal duniawi. Harta, pekerjaan, jabatan, dan seterusnya dan seterusnya. Semakin banyak manusia yang melupakan nilai-nilai akhirat.

Islam adalah agama yang sangat luar biasa. Mengajarkan tentang keseimbangan. Antara dunia dan akhirat. Kita boleh mengejar dunia tapi jangan melupakan akhirat. Kita juga harus mengejar dunia tapi jangan melupakan dunia kita. Sungguh, begitu indah Islam mengajarkan. Bukan 50% untuk dunia dan 50% untuk akhirat. Melainkan 100% untuk dunia dan 100% untuk akhirat. Subhanallah.

“Janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam menaati Allah.”

QS Luqman : 33

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

QS Al Qhasas : 77

Bukankah kita selalu berdoa “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar”?

Ikhwan wa akhwat fillah, semoga hidayah Allah selalu bersama kita …

Dalam hidup akan banyak ditemui bermacam jalan. Kadang datar, kadang menurun, kadang pula meninggi. Kadang lurus, namun tidak jarang menjumpai onak dan duri. Suatu saat kita memiliki kondisi iman yang tinggi. Di saat lain, kita pun dapat mengalami degradasi iman. Tabiat manusia memang menggariskan demikian. Dalam kondisi iman yang turun ini, kita sering kali terkena satu penyakit yang sangat berbahaya, yaitu futur atau kelesuan.

Futur berarti putusnya kegiatan setelah kontinyu bergerak atau diam setelah bergerak, atau malas, lamban dan santai setelah sungguh-sungguh.

Terjadinya futur bagi manusia sebenarnya merupakan hal yang wajar. Hanya malaikat yang mampu kontinyu mengabdi kepada Allah dengan kualitas terbaik.

“Dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada hentinya.”

QS Al Anbiya : 19-20

Karena itu Rasulallah saw sering berdoa: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku akhirnya. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalku keridhaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku saat bertemu dengan-Mu.”

Ramadhan tinggal sehasta … Marilah kita sama-sama meningkatkan kualitas iman kita untuk menyambut bulan suci ini yang tinggal beberapa waktu lagi. Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban wa ablighna ramadhan …

Ikhwan wa akhwat fillah yang disayangi Allah … Ada beberapa penyebab yang dapat menyegerakan timbulnya futur:

Pertama, berlebihan dalam din (Bersikap keras dan berlebihan dalam beragama)

Berlebihan pada suatu jenis amal akan berdampak kepada terabaikannya kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sikap yang dituntut pada kita dalam beramal adalah washathiyyah atau sedang dan tengah-tengah agar tidak terperangkap dalam ifrath dan tafrith (mengabaikan kewajiban yang lain).

Dalam hadits yang lain Rasul bersabda:

“Sesungguhnya din (agama) itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.”

HR Muslim

Karena itu, amal yang paling di sukai Allah SWT adalah yang sedikit dan kontinyu.

“Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah amal yang paling kontinyu dikerjakan meskipun sedikit.”

HR Bukhari

“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti si Fulan. Dulu ia (rajin) sholat malam, kemudian ia tinggalkan sholat malam.”

HR Bukhari

“Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.”

HR Abu Dawud

Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. (Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang diperbolehkan)

Mubah adalah sesuatu yang dibolehkan. Namun para sahabat sangat menjaganya. Mereka lebih memilih untuk menjauhkan diri dari hal yang mubah karena takut terjatuh pada yang haram. Berlebihan dalam makanan menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Kegemukan akan memberatkan badan. Sehingga orang menjadi malas. Malas membuat seseorang menjadi santai. Dan santai mengakibatkan kemunduran. Karena itu secara keseluruhan hal ini bisa menghalangi dalam amal dakwah.

Contoh yang paling sederhana. Beberapa waktu lalu masyarakat heboh dengan fatwa haram Facebook. Bukan begitu? Semua berdalih bahwa Facebook itu mubah dan seterusnya dan seterusnya. Betul. Mubah. Tapi ingat, segala sesuatu bisa berubah hukumnya dalam keadaan tertentu. Kita asyik-asyik ber-Facebook ria sehingga meninggalkan sholat dan kewajiban yang lain, apakah itu masih mubah?

Astaghfirullah … Semoga Allah mengampuni kita …

Ketiga, memisahkan diri dari kebersamaan atau jamaah (Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari organisasi atau berjamaah)

Jauhnya seseorang dari berjamaah membuatnya mudah didekati syaitan.

Rasul bersabda: “Setan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.”

HR Ahmad

Jika setan telah memasuki hatinya, maka tak sungkan hatinya akan melahirkan zhan (prasangka) yang tidak pada tempatnya kepada organisasi atau jamaah. Jika berlanjut, hal ini menyebabkan hilangnya sikap tsiqah (kepercayaan) kepada organisasi atau jamaah.

Dengan berjamaah, seseorang akan selalu mendapatkan adanya kegiatan yang selalu baru. Ini terjadi karena jamaah merupakan kumpulan pribadi, yang masing-masing memiliki gagasan dan ide baru. Sedang tanpa jamaah seseorang dapat terperosok kepada kebosanan yang terjadi akibat kerutinan. Karena itu imam Ali berkata: “Sekeruh-keruh hidup berjamaah, lebih baik dari hidup sendiri.”

Karenanya, marilah kita mencarai teman-teman yang dapat membawa kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Keempat, sedikit mengingat akhirat (Lemah dalam mengingat kematian dan kehidupan akhirat)

Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingat akan adanya hisab atas setiap amalnya. Kebalikannya, sedikit mengingat kehidupan akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal. Ini disebabkan tidak adanya pemacu amal berupa keinginan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah pada hari yaumul hisab nanti. Karena itu Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

Kelima, melalaikan amalan siang dan malam (Tidak memiliki komitmen yang baik dalam mengamalkan aktivitas ’ubudiyah harian)

Pelaksanaan ibadah secara tekun, membuat seseorang selalu ada dalam perlindungan Allah. Selalu terjaga komunikasi sambung rasa antara ia dengan Allah SWT. Ini membuatnya mempersiapkan kondisi ruhiyah atau spiritual yang baik sebagai dasar keimanan yang kokoh. Namun sebaliknya, kelalaian untuk melaksanakan amalan, berupa rangkaian ibadah baik yang wajib maupun sunnah, dapat membuat seseorang terjerumus untuk sedikit demi sedikit merenggangkan hubungannya dengan Allah. jika ini terjadi, maka sulit baginya menjaga kondisi ruhiyah dalam keadaan taat kepada Allah. kadang hal ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk berbicara kepada hati.

“Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikit pun.”

QS An Nur : 40

Keenam, masuknya barang haram ke dalam perut (Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram)

Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah”. Rasulullah saw menjawab, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya.”

HR At-Thabrani

Ketujuh, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. (Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dakwah)

Iman yang kita miliki akan selalu menghadapi tantangan. Haq dan bathil selalu berusaha untuk memperbesar pengaruhnya masing-masing. Akan selalu ada orang-orang mengajak kita dalam kebaikan. Di lain pihak juga akan selalu tumbuh orang-orang pendukung hawa nafsu yang mengajak kita jauh dari Allah. Dan dalam waktu yang Allah kehendaki, kita akan bertemu dengan “fitnah”. Dalam bahasa Arab, kata “fitnah” berasal dari kata yang digunakan untuk menggambarkan proses penyaringan emas dari batu-batu lainnya. Karena itu “fitnah” merupakan sunnatullah yang akan menjumpai manusia. Dengan “fitnah” Allah juga menyaring siapa hamba yang masuk golongan shadiqin dan siapa yang kadzib (dusta). Dan jika fitnah itu datang, sementara ia tidak siap menerimanya, besar kemungkinan akan terjadi degradasi iman. Dan itu membuat futur.

Allah Berfirman: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.”

QS Al Ahqaf : 14

Ayat tersebut menerangkan bahwa seringkali manusia terlena dengan apa yang dicintainya. Misalnya, ketika sedang asyik bercengkerama dengan istri dan anak-anak kita, adzan pun berkumandang. Tentunya istri dan anak-anak yang sholeh akan mendorong kita untuk segera menjawab panggilan Allah tersebut.

Kedelapan, bersahabat dengan orang-orang yang lemah (Berteman dengan orang-orang yang buruk dan bersemangat rendah)

Kondisi lingkungan dapat menentukan kualitas seseorang. Teman yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik. Akan tumbuh suasana ta’awun atau tolong-menolong dan saling menasihatkan. Sementara teman yang buruk dapat melunturkan hamasah (kemauan) yang semula telah menjadi tekad.

Rasulullah bersabda:”Seseorang atas diri sahabatnya, hendaklah melihat salah seorang di antara kalian siapa ia berteman.”

HR Abu Daud

Kesembilan, jatuh dalam kemaksiatan (Meremehkan dosa dan maksiat)

Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi, sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Bahkan untuk menjaga diri sendiri pun sulit.

Ikhwan wa akhwat fillah yang disayangi Allah … Setelah kita mengetahui penyebab-penyebab futur atau segala hal yang membuat terdegradasinya iman kita, mari kita lanjutkan dengan cara mengobati futur atau kelesuan jika ternyata futur sudah melekat pada diri kita …

Pertama, jauhi kemaksiatan

Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalah ia.”

QS Thaha : 81

Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang akan lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur. Allah berfirman:

“Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.”

QS Al A’raf : 96

Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam

Amalan siang dan malam dapat melindungi dan menjaga pelaku dakwah untuk selalu berhubungan dengan Allah SWT. Hal ini dapat menjauhkannya dari perbuatan yang tidak mendapat restu dari Allah. Allah berfirman:

“Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, ialah orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.”

QS Al Furqan : 63-64

Ketiga, mengintai waktu-waktu yang baik

Dalam banyak hadits Rasulullah saw. banyak menginformasikan adanya waktu-waktu tertentu dimana Allah SWT lebih memperhatikan doa hamba-Nya. Sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, antara dua khutbah, ba’da Ashar hari Jum’at, bulan Ramadhan, bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, Rajab, dan lain-lain. Waktu-waktu itu memiliki keistimewaan yang dapat mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah.

Pada waktu-waktu tersebut, mintalah kepada Allah agar Allah mencintai kita, agar Allah memudahkan langkah-langkah kita dalam beribadah kepada-Nya.

Keempat, menjauhi hal-hal yang berlebihan.

Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai dengan kemampuannya.

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!”

QS At Taghabun : 6

Islam adalah Din tawazun (keseimbangan). Disuruhnya pemeluknya memperhatikan akhirat, namun jangan melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan. Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (adil) dan pilihan.”

QS Al Baqarah : 143

Kelima, melazimi Jamaah

“Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” Demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.”

Dengan jamaah kita akan selalu berada dalam majelis dzikir dan pikir. Hal ini membuat kita selalu terikat dengan komitmennya semula. Jamaah juga dapat memberikan program dan kegiatan yang variatif. Sehingga kita terhindar dari kebosanan.

Keenam, mengenal kendala yang akan menghadang

“Dan beberapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sebagian besar karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”

QS Ali Imran : 146

Ketujuh, teliti dan sistemik dalam kerja

Perencanaan akan menyadarkan kita bahwa jalan yang ditempuh amat panjang. Tujuan yang akan dicapai amat besar. Karena itu juga dibutuhkan waktu, amal dan percobaan yang besar. Jika ini semua telah dimengerti, insya Allah akan tercapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.

Misalnya, ketika ramadhan, ada baiknya kita menyiapkan target yang ingin kita capai. Untuk menkhatamkan quran dalam 1 bulan, kita coba rencanakan untuk membaca 1 hari 1 juz, bisa kita bagi menjadi beberapa waktu setiap harinya. Dengan adanya perencanaan, maka apa yang kita lakukan akan lebih efektif.

Kedelapan, memilih teman yang shalih

Rasulullah bersabda:

“Seseorang tergantung pada sahabatnya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.”

H.R. Abu Daud

Kesembilan, mengigat Allah

Ketika kita dirundung masalah, kebosanan, musibah, segeralah kita mengingat Allah.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Ar Ra’d : 28

Kesepuluh, mengingat mati, surga dan neraka

Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.”

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

QS Al Anbiya : 35

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

At Tahrim : 6

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sholatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yaitu yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Al Mu’minun : 1-11

Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita, Amin …

Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’ban wa balighna romadhon ,,,

Ya Allah ya Rabb ,,, Bulan sabit semakin menipis … Dan, bulan baru akan datang ,,, Jika tidak sampai waktuku, matikan aku dalam keadaan berserah diri kepada-Mu, wahai Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu … Amiiiin ,,,

Masih ada waktu ,,, Masih ada waktu ,,, Selagi ruh belum sampai kerongkongan ,,, Masih ada waktu bagi kita untuk bertaubat ,,, Untuk memperbaiki nita kita ,,, Memperbaiki kualitas iman kita … Untuk kembali kepada-Nya …

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

QS At Tahrim : 8

Fiamanillah,

Tim Moodis

Sumber : Mahfudz Siddiq, M.Si.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: