What After Ramadhan?

Aku bukanlah seorang ustadz yang terkenal. Apalagi seorang yang memiliki banyak ilmu. Tidak sama sekali.

Aku juga bukan seorang yang istiqomah dalam ketaatan. Aku tidak munafik. Tapi jujur, aku juga ingin istiqomah di jalan Allah.

Aku hanya seseorang manusia biasa, yang Allah takdirkan untuk ‘lebih sering’ datang ke masjid untuk sholat dibandingkan anak-anak seusiaku.

Aku juga hanya seorang manusia biasa, yang Allah takdirkan ‘lebih senang’ menghadiri ceramah-ceramah agama dan ‘lebih suka’ mengkaji kitab-kitab dibandingkan dengan teman-teman sepermainanku.

Aku pun tidak lebih pintar dari temanku yang bersekolah di kampus-kampus agama. Hanya saja, Allah takdirkan aku lebih menonjol dari pada mereka.

Aku Abdulllah. Maaf, semua manusia juga abdullah🙂

Namaku Daud. Sebuah nama yang cukup mendunia sepertinya. Di negeri barat juga banyak yang memiliki nama seperti namaku. Namun, mereka menyebut namaku dengan sebutan David.

Nama itu pemberian dari pamanku. Namaku memiliki sejarah juga ternyata. Kata ayahku, waktu itu paman ‘tidak sengaja’ sholat isya di masjid pinggiran kota Jogja. Saat itu ada sebuah kajian agama. Si penceramah saat itu menyampaikan sebuah hadis, “Rasulullah saw bersabda, ‘Di dalam al Quran terdapat 30 ayat, yang akan memberikan syafaat bagi seorang laki-laki hingga diampuni. Surat itu adalah tabarakalladzi biyadihil mulk (Surat Al Mulk).” Apa hubungannya dengan ‘Daud’, namaku? Ternyata hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Daud. Tapi setelah mendengar hadis itu, pamanku menghafalkan Surat Al Mulk. Kalau kata bibi, istri pamanku, “Pamanmu itu, Ndo, klo sholat bacanya Surat Al Mulk melulu … Lama-lama bibi jadi hafal, Ndo …”

Ramadhan baru saja berlalu. Baru 7 hari berlalu. Jamaah isya hari ini hanya 4 orang; Ustadz Fawaz, aku, pak RT, dan Iqbal. Sepertinya itulah jamaah tetap masjid di tempat tinggalku. Kadang kali cuma bertiga; Ustadz Fawaz, pak RT, dan Iqbal. Aku kemana? Nah, itu dia tadi, aku juga bukan seorang yang istiqomah dalam ketaatan. Tapi aku juga ingin bisa istiqomah seperti Ustadz Fawaz, pak RT, dan Iqbal yang hampir tidak pernah tertinggal takbiratul ihram.

Iqbal lebih muda 2 tahun dari aku. Dia juga tidak memliki latar pendidikan agama. Hanya saja dia rajin untuk sholat di masjid. Sepertinya hati dia sudah terkait dengan rumah Allah. Setelah sholat Iqbal mendekati aku. “Bang, ini di bulan Syawal jamaah pada kemana ya?” tanya Iqbal.

“Yah Bal, ga cuma tahun ini. Dari dulu juga gitu. Masjid ramainya pas Romadhon doank,” jawabku.

“Wiets, Bro Daud. What after Ramadhan?”

“Syawal ya, Akhi!”

“Artinya Syawal apa coba, Bang?”

“Meningkat!” jawabku.

“Nah, kan! Syawal itu artinya meningkat. Seharusnya kan kita meningkat, Bang! Taqwa kita meningkat, sholat kita tambah rajin, baca Quran tambah semangat. Lah sekarang gimana coba, Bang? Taqwa kita turun, sholat juga udah mulai akhir waktu, Quran juga boro-boro bang dibaca, dilirik juga ga, Bang!” urai Iqbal.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Gitu Daud, Iqbal, kata Allah di surat Ar Ra’du ayat 11,” tiba-tiba Ustadz Fawaz menimpali percakapan kami.

“Daud, Iqbal, kamu pernah ga ngeliat seseorang yang sedang menyulam sebuah sweater, setelah sweater selesai disulam, orang itu mengambil gunting dan kemudian menggunting sweater yang baru saja diselesaikannya sampai rusak?” tanya Ustadz Fawaz.

“Menurut kamu, kalau melihat orang seperti itu bagaimana?” lanjut Ustadz Fawaz.

Kita baru saja meninggalkan bulan Ramadhan. Bulan yang penuh dengan keberkahan, penuh ampunan, dan penuh rahmat dari Allah SWT.

Apakah kita telah memenuhi persyaratan dan lulus dengan predikat taqwa?

Ikhwan wa Akhwat yang disayangi Allah SWT,

Betapa banyak orang yang sudah berjuang di bulan Ramadhan akan tetapi setelah Ramadhan pergi mereka kembali kepada keadaan awal mereka ,,, Bahkan juga banyak yang menjadi lebih buruk dari sebelumnya …

Bila kita amati keadaan setelah Ramadhan, kita akan menemukan berbagai hal sebagai berikut :

  1. Orang-orang meninggalkan shalat berjamaah di masjid, padahal ketika Ramadhan, paling tidak mereka hadir ketika shalat isya dan tarawih. Kemanakah mereka? Atau pertanyaannya seperti ini, kemanakah kita?
  2. Banyak orang yang kembali kepada kebiasaan mereka yang ketika Ramadhan mereka hindari, seperti meninggalkan hal-hal tidak bermanfaat dan hal-hal yang menjauhkan diri kita dari Allah SWT. Kenapa demikian?

 

Dan, apakah kita yakin ibadah kita di bulan Ramadhan itu diterima wahai Ikhwan dan Akhwat fillah?

Bukankah para sahabat nabi terus berdoa kepada Allah selama 6 bulan setelah Ramadhan agar ibadah mereka di terima? Apakah kita lebih sholeh, lebih bertaqwa, dan lebih ikhlash dari sahabat nabi? Jika kita merasa benar, merasa sudah cukup amal kita, merasa sudah taqwa, sudah merasa mencintai Allah dan Rosul lebih dari apapun “… maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar …” (QS Al Jumuah : 6)

 

Ikhwan wa Akhwat fillah yang dirahmati Allah, mungkin kita lupa dengan ayat 99 surat Al Hijr,

” … dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.”

 

Kenyataannya, setelah memasuki bulan Syawal masjid menjadi sepi kembali, rasa syukur, sabar, ikhlas, dan istiqomah tidak juga meningkat, maka boleh saja dikatakan, bahwa puasa tidak mendapatkan apa-apa.

“Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga.”

HR Ibnu Majah

 

Jika berpuasa di bulan Ramadhan sudah berakhir, masih ada puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa ayamul bid (puasa 3 hari di tengah bulan), puasa Asyura, puasa Arafah, dan lain-lain.

“Barangsiapa berpuasa ramadan kemudian diikuti puasa enam hari di bulan Syawal, pahalanya seperti puasa setahun.”

HR Muslim

 

Jika tarawih di bulan Ramadhan sudah berakhir, masih ada shalat dhuha, tahajud, witir 1 rakaat sebelum tidur (ringan banget kan?), dan lain-lain.

Dari Abu Darda ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan ketiga hal itu selama saya masih hidup, yaitu menunaikan puasa tiga hari pada setiap bulan, mengerjakan sholat dhuha, dan tidak tidur sebelum menunaikan sholat witir.”

HR Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i

 

Jika kita sudah menunaikan zakat fitri di bulan Ramadhan, kita bisa melakukan infaq, sedekah, atau memberi hadiah.

Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.

QS Al Baqarah : 261

 

Jika kita sudah khatam Quran di bulan Ramadhan, bukan berarti kita tinggalkan al Quran tergeletak begitu saja kan?

“Bacalah Al Quran sesungguhnya ia datang dihari kiamat sebagai syafaat bagi pembacanya.”

HR Muslim

 

Jika kita di bulan Ramadhan bisa menjaga diri kita dari maksiat kepada Allah, kenapa di luar Ramadhan kita kembali kepada kemaksiatan?

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”. (QS Ali Imran : 147)

Rabban taqabbal minna … Shiyamana ,,, wa Sholatana … innaka anta sami’un alim … wa tub ‘alayna innaka anta tawwaburrahim …

Semoga tetap semangat ya ^^

Tim Moodis

Tim Moodis mengucapakan “Taqabalallahu minna wa minkum … Minal aidin wal faizin”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: