Syair Kehidupan …

Aku masih saja sulit untuk memejamkan mata. Sudah pukul dua pagi kulihat jam di dinding kamarku. Sebuah pertanyaan yang membuatku tidak bisa tidur malam itu. Tentang kehidupan. Ya, kehidupan.

Kuperhatikan beberapa temanku dalam kesehariannya disibukkan dengan bermain PlayStation. Sebagian yang lain begitu bersemangatnya men-download film-film dan musik. Ada juga yang sangat gemar bermain game online, Facebook, dan lain-lain. Segelintir yang lain tidak pernah puas membicarakan mobil dan motor hasil modifikasi. Di samping itu, ada sedikit teman, terhitung dengan jari sebelah tangan, memiliki hobi membaca dan menulis. Ada juga yang sibuk di organisasi kampus ataupun dakwah. Sebagian yang lain juga ada yang sibuk dalam urusan-urusan agama.

Mereka semua itu teman-teman satu angkatanku di kampus. Semua punya kesibukan yang berbeda-beda selain kuliah.

Itulah yang aku pikirkan. Ya, hidup itu sebuah pilihan. Pilihan. Dalam setiap detik yang kita lalui merupakan sebuah pilihan. Setiap detik yang kita lewati akan memiliki akibat pada detik-detik selanjutnya. Yang masih menjadi tanda tanya bagiku, apa yang mendasari orang-orang itu menentukan pilihan hidupnya dalam setiap detik yang dilaluinya. Apa yang mendasari sebagian teman-temanku yang kerjanya hanya bermain-main? Apa pula yang mendorong sebagian temanku yang lain untuk sibuk di berbagai kegiatan organisasi kampus? Aku tidak ingin mencampuri, tapi aku rasa mereka pun memiliki alasan-alasan kuat dalam menentukan langkah apa yang harus di ambil dalam setiap detik hidup mereka.

Tapi aku masih tetap tidak dapat menutup rapat kedua kelopak mataku. Kedua mataku masih terbuka. Masih berpikir satu hal, tentang sebuah nasihat yang aku dengar dari ceramah jumat kemarin di masjid kampus. Tentang tujuan hidup. Di dalam ceramah itu disampaikan oleh Sang Khatib bahwa Allah menciptakan kita tidak lain hanya untuk beribadah. Hanya untuk ibadah. Titik. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada pilihan kedua. Hanya satu. Ibadah. Ayat yang disampaikan oleh Sang Khatib, menurutku hampir semua orang Islam sudah mengetahuinya. Tapi apakah mereka benar-benar memahami maksud ayat tersebut?

“Banyak orang mengetahui persamaan Einstein bahwa E=mc^2. Tapi apakah mereka paham esensi persamaan tersebut?”

“Kita tahu bahwa tujuan penciptaan kita adalah hanya untuk ibadah kepada Allah. Tapi apakah kita paham esensi frase ‘hanya untuk ibadah’?” Lanjut Sang Khatib.

“Bahkan ketika kita sholat menghadap Allah pun, kita sering tidak sadar apa yang kita lakukan. Hanya sebuah rutinitas. Kita lupa apa tujuan kita dalam sholat.”

“Jika dalam sholat saja kita lupa apa tujuan kita, apalagi dalam kegiatan-kegiatan kehidupan kita yang lain?”

Selama ceramah itu, aku hanya bisa menangis. Malu. Mungkin apa yang aku rasakan juga dirasakan oleh jamaah yang lain.

“Berapa kali kita sholat dalam sehari? Sudah berapa tahun kita sholat? Berapa kali kita benar-benar sungguh-sungguh dalam sholat kita?” Sambung Sang Khatib.

“Sekali lagi, saya mengingatkan diri saya pribadi dan juga jamaah sekalian, detik demi detik kehidupan kita hanya untuk Allah. Dalam tiap desah nafas yang terhembus, beribadah kepada-Nya, dalam tiap degup jantung yang tercurah, beribadah kepada-Nya. Di setiap epidermis yang terkulik, hanya untuk-Nya.”

Pertama kali dalam hidupku menghadiri ceramah jumat yang membuat sebagian jamaah meneteskan air mata. Pun demikian dengan Sang Khatib. Khutbah pun ditutup dengan doa yang diiringi dengan air mata.

Aku teringat pesan Hadid, sahabatku, “Belajar itu ibadah, bekerja itu juga ibadah, makan dan tidur pun ibadah, makanya niatkan semuanya ibadah karena Allah. Misalnya mau belajar, niatkan dalam hati bahwa belajar itu untuk mendapatkan ridha Allah, jangan lupa bismillah juga dalam setiap aktivitas kita …”

Jika semua yang kita lakukan dalam tujuan ibadah kepada Allah, aku jadi berpikir, ketika kita nonton film, mendengarkan musik, bermain PlayStation, game online, Facebook, dan lain-lainnya, apakah mungkin hal-hal tersebut dalam kerangka ibadah? Setidaknya kita lupa kepada Allah saat melakukan aktivitas tersebut. Pas lagi sholat aja lupa sama Allah, iya kan?

Dulu pernah suatu waktu Hadid mendapatiku bermain Winning Eleven di PlayStation. Tiba-tiba dia bilang, “Udah maennya, udah satu jam lebih lho … Sayang waktunya ,,,” Hadid juga punya PlayStation di kamar kosnya. Tapi sepertinya jarang disentuh olehnya. “Bentar lagi bro, refreshing nih ,,, Lagi BT gw …” Jawabku.

“Inget, Bro, hanya dengan mengingat Allah hati jadi tenteram … Orang-orang beriman itu banyak mengingat Allah ,,, Jadi, orang-orang beriman itu hatinya senantiasa tenteram ,,, Bener ga? Gitu kan logikanya?”

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” QS Ar Ra’d : 28

“Iya Pak Ustadz ,,, Bawel bener …” Sanggahku. Hadid pun tersenyum.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh ,,,

Ikhwan wa Akhwat fillah sahabat Moodis yang dirahmati Allah,

Kita sudah tidak asing lagi dengan surat adz Dzariyat ayat 56, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Tapi dalam penyampaian ayat tersebut seringkali dilupakan oleh kita dua ayat setelahnya, yaitu ayat 57 dan 58. “Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak membutuhan jin dan manusia, tetapi justru jin dan manusialah yang sangat membutuhkan ALlah dalam segala keadaan.

Ibadah yang kita lakukan pun itu untuk kita sendiri. Untuk menyelamatkan diri kita dari adzab Allah. Untuk menggapai rahmat dan ridha Allah SWT.

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, Aku akan memenuhi hatimu dengan kebahagiaan dan Aku akan menutupi kafakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan mengisi hatimu dengan kesengsaraan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.”

HR Ahmad

Ikhwan wa Akhwat fillah sahabat Moodis, semoga kita selalu istiqomah di jalan-Nya …

Tidak penting menjadi orang penting, tidak penting menjadi orang terhormat, yang penting adalah kita menjadi hamba Allah yang taat …

Siapapun kita, manajerkah kita, pemilik perusahaankah kita, seorang gurukah kita, seorang pekerjakah kita, seorang pelajarkah kita, seorang ibu rumah tanggakah kita, presidenkah kita, dan sebagainya dan sebagaianya, apapun jabatan dan kedudukan kita, kita adalah hamba Allah SWT … Jika kita seorang manajer, jadilah seorang manajer yang taat kepada Allah ,,, Jika kita seorang wakil rakyat, jadilah wakil rakyat yang taat kepada Allah SWT …

Seperti apakah seorang hamba itu seharusnya?

Subhanallah, Allah SWT memerintahkan kita untuk beribadah sebagai hamba Allah, Allah pun juga memberi specific guidance seperti apa seorang hamba itu seharusnya …

Mari sama-sama kita buka mushaf Quran surat al Furqon ayat 63-76. Inilah karakter yang melekat pada seorang hamba Allah …

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu adalah

  • Orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati
  • Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.
  • Orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka
  • Orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
  • Orang-orang yang apabila menginfakkan harta, mereka tidak berlebihan, dan tidak pula kikir, diantara keduanya secara wajar.
  • Orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah
  • Tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar
  • Tidak berzina

“Barang siapa yang melakukan yang demikian itu (mempersekutukan Allah, membunuh tidak dengan alasan yang benar, melakukan zina), niscaya dia mendapat balasan dosanya, yaitu akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

  • Orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
  • Orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu.
  • Orang-orang yang apabila bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, mereka lalui berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya.
  • Orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah bersikap sebagai orang- orang yang tuli dan buta.
  • Orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Subhanallah, Ikhwan wa Akhwat fillah sahabat Moodis … Apakah karakter-karakter itu sudah berada pada diri kita?

Dan, pada ayat di atas ada dua doa yang dapat amalkan, yaitu

رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ‌ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا

“Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٲجِنَا وَذُرِّيَّـٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٍ۬ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Itulah karakter-karakter yang seharusnya melekat pada diri seorang hamba … Dan Allah menutup dengan dua ayat yang begitu indah …

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi dalam syurga karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.”

Semoga Allah mengampuni … Semoga Allah ridho … Amiin ,,,

Wassalamu’alaykum …

Fiamanillah,

– Tim Moodis –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: