Cinta dan Pengorbanan

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah. Allahumma shali ‘ala muhammad.

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh Ikhwan wa Akhwat fillah yang dirahmati Allah SWT,

Beberapa hari lagi kita akan meninggalkan bulan Dzulhijjah 1431 H dan kita akan segera memasuki tahun baru 1432 H. Sebelum meninggalkan bulan Dzulhijjah, mari sama-sama kita muhasabah, kita introspeksi diri kita, serta mencoba mengambil hikmah pengorbanan yang terserak di bulan Dzulhijjah ini.

Ketika kita mencintai sesuatu kita akan berkorban untuk sesuatu tersebut, dengan senang hati.

Ketika kita mengingikan mendapatkan gelar akademis ataupun sebuah pekerjaan untuk masa depan kita, masa depan suami atau istri dan anak-anak kita, untuk kehidupan kita dan keluarga kita, kita akan mengorbankan banyak hal, seperti waktu yang kita miliki, harta benda kita, energi kita, dan seterusnya. Kita terus berkorban dan berjuang untuk sesuatu yang kita inginkan atau kita cintai tersebut. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut.

Kita mencintai orang tua, suami atau istri, dan anak kita, serta saudara kita misalnya. Ketika anak kita mengalami suatu kecelakaan dan membutuhkan banyak darah, kita pun dengan senang hati untuk mendonorkan darah kita. Ketika orang tua kita membutuhkan mata, kita pun sebagai anak-anaknya dengan rela memberikan mata kita. Ketika suami atau istri kita didiagnosa dan membutuhkan ginjal, kita pun ikhlas menjadi orang pertama yang akan memberikan ginjal kita. Pengorbanan terlahir otomatis begitu saja seiring dengan rasa cinta yang kita miliki, dengan rasa senang hati dan rela. Aku harap demikian pengorbanan kita atas apa yang kita cintai. Atau kita masih berpikir ribuan kali untuk memberikan darah, mata, ataupun ginjal kita bagi orang tua atau keluarga kita? Semoga saja tidak.

Dari Anas bin Malik ra, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang diantara kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”. (HR Bukhari dan Muslim)

Pertanyaannya sekarang, apa yang telah kita korbankan untuk agama kita, Islam, untuk Allah dan Rasul saw? Bukankah kita menyatakan bahwa kita cinta Islam, kita cinta Allah dan Rasul? Banyak kan kita temukan di profile Facebook teman-teman kita atau bahkan profile Facebook kita menuliskan “I Love Islam”, “I Love Allah”, dan “I Love Muhammad saw”? Bagaimana pengorbanan kita? Jangan-jangan kita hanya ngomong doank. Jangan-jangan nih, antara lisan, hati, dan perbuatan kita tidak sejalan. Na’udzubillah.

Allah berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan sebelum kamu menafkahkan apa yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran : 92)

Subhanallah, sampai demikian Islam mengatur tentang pengorbanan. Itulah pengorbanan yang sesungguhnya. “Memberikan apa yang kita cintai.” Padahal seringkali pula kita tidak ikhlas ketika memberikan sesuatu yang tidak kita cintai.

Bukankah seorang sahabat Anshor, Sa’ad bin Rabi’, menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahkan dengan Abdurrahman bin Auf? Bukankah Umar ra memberikan separuh hartanya di jalan Allah? Bukankah Abu Bakar menafkahkan seluruh hartanya untuk Islam? Subhanallah. Kadang kita pikir pengorbanan para sahabat Rasul, subhanallah, seolah-olah mustahil. Tapi itulah kenyataannya.

Kemudian, bagaimana dengan pengorbanan kita? Demikian percaya dirinya kita bahwa kita adalah salah satu penghuni surga Allah. Perjuangan masih begitu panjang, Akhi, Ukhti.

Pengorbanan juga merupakan salah satu karakter spesifik orang-orang yang bertaqwa, orang-orang akan diberikan ampunan dan surga Allah SWT. Di dalam surat Ali Imran ayat 133 dan 134 Allah SWT berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan apa yang dimiliki, baik di waktu lapang maupun sempit.”

Pada ayat tersebut Allah SWT tidak spesifik menyebutkan apa yang harus kita nafkahkan. Tidak terbatas harta semata. Banyak hal yang dapat kita nafkahkan di jalan Allah selain harta, seperti waktu yang kita miliki, energi kita, ide kita, semangat kita, dan seterusnya, bahkan di saat keadaan sempit. Subhanallah. Kita dapat berangkat dari hal-hal yang dekat dengan diri kita dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri kita. Berapa waktu yang kita gunakan untuk membaca, mempelajari, dan memahami Al Qur’an setiap harinya? 3 jam? 1 jam? 5 menit? Ayo Akhi, Ukhti, kita bisa mengerjakan hal-hal kehidupan dunia bahkan hal-hal yang tidak memberikan manfaat selama berjam-jam. Janganlah kita lupa untuk kehidupan yang sesungguhnya, yaitu akhirat. Kita bisa, aku yakin! Sangat yakin! Jangan mengandalkan diri kita sendiri, Wahai Saudaraku. Mintalah kesabaran dan kekuatan kepada Allah SWT agar kita dapat melaksanakan apa-apa yang Allah SWT perintahkan. Kita bisa, insyaAllah!

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta kepada Allah.” (QS Al Baqarah : 165)

Aku ingin menutup tulisan ini dengan perkataan Ibnul Qayyim al Jauziyyah. Beliau mengatakan, “Jika kamu ingin tahu seberapa besar cinta Allah padamu, maka lihatlah cintamu kepada Al Qur’an di hatimu.”

Semoga tambah semangat ya ^^

Semoga Allah mengampuni ,,, Semoga Allah ridho … Semoga Allah memberkahi sisa usia kita …

Wassalam …

Fiamanillah,

Di perbatasan AsiaOceania,

– Tim Moodis –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: