Adakah yang ingin mengambil pelajaran?

Malam itu, terdengar riuh gemuruh suara ratusan juta pasang mata tertuju pada satu titik di wilayah Senayan. Pada saat yang bersamaan, aku pun hendak melangkahkan kaki keluar rumah menuju sebuah masjid untuk mengisi ta’lim.

 

“Umi sayang, hari ini Indonesia akan mempertaruhkan gengsinya melawan Malaysia di GBK, kira-kira banyak jamaah yang datang ga ya?” Tanyaku.

 

“Suamiku tercinta, walaupun hanya satu orang yang hadir, cintaku ga boleh patah arang untuk berda’wah. Ok?” Jawab istriku penuh cinta. Rona kemesraan begitu terpancar dari senyumnya yang menenangkan jiwa. Subhanallah wal hamdulillah, puji syukur kehadirat engkau ya Rabb yang telah memberikan kepadaku seorang istri yang dapat aku ajak berlari bersama di jalan dakwah ini.

 

Setelah shalat maghrib berjamaah, sebagian besar jamaah segera berhambur keluar. Alhamdulillah, jamaah utama Masjid Al Faruq masih bergeming* di tempat duduknya. Setelah salam, ucapan tahmid dan shalawat aku pun memulai kajian.

 

“Bapak-bapak yang dirahmati Allah, 15 menit lagi peluit pertandingan final AFF antara Indonesia dan Malaysia akan segera ditiup,” kataku, “Dan kita tetap berada di masjid ini untuk menuntut ilmu. Inilah pengorbanan!”

 

“Kita doakan, semoga sahabat-sahabat kita yang mendukung tim kebanggaannya itu tetap memenuhi kewajiban-kewajibannya kepada Allah.”

 

Walladzina amanuu asy syaddu hubbalillah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat besar cintanya kepada Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang begitu besar cintanya kepada Allah.”

 

Selama kajian berlangsung, tidak sekali dua kali di selingi dengan teriakan yang terdengar dari berbagai sisi masjid. Gooolll!!!! Aaaah!!!! Yaaahhhh!!! Masjid Al Faruq memang berada di tengah-tengah pemukiman warga. Tentu saja antusias warga yang sedang menyaksikan pertandingan terakhir Piala AFF terdengar begitu memecah keheningan malam.

 

Setelah isya aku pulang ke rumah. Masih ada satu babak tersisa ternyata. Istriku sudah menyambutku dengan teh hangat dan santap makan malam.

 

“Suamiku sayang, gimana tadi kajiannya?” Tanya istriku seraya membawakan teh hangat dengan kedua tangannya yang mungil.

 

“Masih ada satu babak, Sayang, kalau abi mau nonton,” lanjut istriku.

 

“Cinta, setelah makan malam, dari pada nonton bola, abi ceritain Umi kisah tentang Martus, Nairawis, Dainamus, Maksalaminaya, Qalus, dan Kastumis. Umi mau?” Tanyaku.

 

“Mau, Sayang. Tapi siapa mereka, Abi? Umi belum pernah mendengar nama-nama itu sebelumnya. Jadi penasaran deh, Bi,” jawab istriku.

 

“Iiiih, Sayang, muka Umi lucu banget sih kalau penasaran seperti itu. Ngegemesin banget deh, Umi!” Candaku sambil menyentuh lembut hidung istriku.

 

“Abi apaan sih. Paling bisa deh,” balas istriku dengan manja.

 

Akhirnya aku pun mulai menceritakan kisah ashabul kahfi kepada istriku.

 

Istriku tampak kebingungan ketika aku mengaitkan kisah ashabul kahfi dengan teori quantum yang aku pelajari saat aku menyelesaikan pendidikan masterku di Belanda. Setelah aku bercerita dan menjawab pertanyaan istiku yang super duper amat banyak sekali tentang ashabul kahfi, istriku pun tertidur lelap. Lelah sekali kulihat wajahnya. Begitu setianya dia melayaniku dengan ikhlash. “Ya Rabbi, terimalah amal kebaikan istriku, ampunkanlah dosanya, jadikanlah ia sebagai penyejuk hatiku,” ucapku dalam hati. Kukecup keningnya.

 

Aku kembali sejenak ke ruang tengah. Cukup bagiku untuk sekadar mengetahui hasil akhir pertandingan final tadi. Indonesia mengalahkan Malaysia dengan skor 2 – 1, tetapi hal itu tidak cukup untuk mengantar Firman Utina mengangkat Piala AFF.

 

Ah, aku teringat firman Allah surat Al An’am ayat 59, “Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfudz).”

 

Tinta sudah mengering. Pena sudah diangkat.

 

Subhanallah … Ayat tersebut begitu indah. Begitu sastra. Penuh rasa dan makna.

 

Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Bila kita menganggap sesuatu hal itu adalah kebetulan, rasa-rasanya kita mengingkari ayat tersebut. Sering kali ketika kita butuh pertolongan dan ada teman kita yang datang tanpa kita duga, kita dengan spontan mengatakan, “Wah, kebetulan ada anta, Akhi!” Alangkah lebih pantasnya jika kita berucap, “Alhamdulillah, ada anta, Akhi!”

 

Dan, hanya Allah lah yang mengetahui perkara-perkara ghaib. Apalah hebatnya seekor gurita? Dan tidak sedikit pula yang percaya akan hal itu.

 

Belum lagi pawang hujan yang ikut mengamankan stadion. Sebelum pertandingan digelar, seorang petinggi PSSI mengatakan, “Hujan itu kehendak Allah. Tapi kita berusaha dengan segala cara sendiri!” (sumber dari sini)

 

Cara sendiri? Cara seperti apa? Tidak sekalian saja berucap, “Jodoh itu kehendak Tuhan. Tapi saya berusaha dengan santet!” Atau juga, “Rizki itu kehendak Tuhan. Tapi saya berusaha dengan pesugihan!” Atau juga seorang mahasiswa berkata, “Nilai itu kehendak Tuhan. Tapi saya berusaha dengan nyontek!”

Benarlah hadis Nabi yang mengatakan, “Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al-Anshari Al-Badri berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.'” (HR Bukhari)

 

Tampaknya sudah sedikit sekali orang-orang yang memiliki rasa malu. Aku teringat pesan Ustadz Arya mengenai ma’iyatullah, kebersamaan dengan Allah. Sungguh bahagia rasanya orang memiliki rasa kebersamaan dengan Allah yang tinggi. Ia akan menjaga dirinya dalam keramaian maupun dalam kesendirian.

 

Semoga kita terhindar dari perkara-perkara syirik seperti itu.

 

Nasuha dan Ridwan

 

Gol kemenangan Indonesia atas Malaysia dihasilkan oleh Muhammad Nasuha dan Muhammad Ridwan. Itu pun bagian dari takdir Allah tentunya. Adakah yang ingin mengambil pelajaran?

 

Aku teringat sebuah ayat favorit seorang temanku yang baru menikah. Saat ini istrinya alhamdulillah sedang mengandung. Semoga Allah memberkahi kalian dan memberikan keturunan yang shalih. Ayat tersebut adalah surat Ali Imran ayat 190. Aku yakin banyak yang sudah hafal ayat tersebut berikut terjemahnya.

 

Inna fi khalqis samaawaati wal ardhi wakhtilafillayli wannahaari la aayatil li ulil albab …

 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”

 

Biidznillah, aku akan sedikit bercerita tentang ulil albab. Sangat menarik.

 

Ulil albab diterjemahkan sebagai orang-orang yang berakal.

 

Jika kita melakukan analisis kata ‘albab’, dalam bahasa arab ‘albab’ merupakan bentuk jamak (plural) dari ‘lub’. Apakah ‘lub’?

 

Jika kita menebang pohon, kita akan mendapatkan di bagian tengah pohon tersebut yang berbentuk seperti lingkaran. Orang-orang desa menyebutnya ati kayu. Dalam istilah sains kita mengenalnya sebagai xylem dan phloem. Tepat sekali, terletak bagian inti pohon. (Mohon koreksi dari ahli biologi jika istilah tersebut salah)

 

Jadi, makna ‘ulul albab’ tidak sekadar ‘orang-orang yang berakal’, karena toh semua manusia juga berakal, bukan? ‘Ulul albab’ adalah orang-orang yang mampu menggunakan akalnya untuk berpikir atau bertafakur secara mendalam ke inti permasalahan serta dapat mengambil i’tibar atau pelajaran dari berbagai hal, yang akan berakhir pada keimanan kepada Allah.

 

Konsep ‘ulul albab’ ini cukup detail dibahas di dalam tafsir Ibnu Katsir. Aku akan mengutip beberapa paragraf.

 

Dari Isa a.s.mengatakan, “Beruntunglah bagi orang yang ucapannya adalah zikir, diamnya berpikir, dan pandangannya sebagai pelajaran.”

 

“Sesungguhnya bila aku keluar dari rumahku,” kata Syekh Abu Sulaiman Ad-Darani, “tiada sesuatu pun yang terlihat oleh mataku melainkan aku melihat bahwa Allah telah memberikan suatu nikmat kepadaku padanya, dan bagiku di dalamnya terkandung pelajaran.”

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwa ia mengatakan, “Dua rakaat yang lamanya pertengahan dengan bertafakur adalah lebih baik dari pada berdiri salat sepanjang malam sedangkan hatinya lupa.”

 

Yup, pemikiran yang mendalam akan berakhir pada pengagungan Tuhan Semesta Alam, Allahu Rabbul ‘Alamin. Ada baiknya juga untuk membaca salah satu karya Harun Yahya, yaitu Deep Thinking – Bagaimana Seorang Muslim Berpikir.

 

Adakah yang ingin mengambil pelajaran?

 

Aku tidak bermaksud untuk mengait-ngaitkan segala yang ada. Tapi marilah kita coba berpikir seperti ‘ulil albab’. Tentunya saat ini tidak perlu yang berat-berat. Kita mulai dari yang ringan terlebih dahulu. Kita akan mencoba menarik hikmah dari dua pencetak gol Indonesia ke gawang Malaysia, yaitu Muhammad Nasuha dan Muhammad Ridwan.

 

Sudah adakah yang bisa menebak ke arah mana aku akan berbicara?

 

Belum ketebak?

 

Ada apa dengan Nasuha dan Ridwan?

 

Gol Ridwan hadir setelah gol Nasuha!

 

Ridwan … Jika kita membaca lagi al Quran, kita menemukan bahwa Ridwan berarti ridha. Dan Nasuha, di dalam al Quran, kata nasuha di awali dengan taubat.

 

So, sudah adakah yang bisa menebak ke arah mana aku akan berbicara?

 

Ini merupakan pelajara bagi bangsa Indonesia. Negeri kita yang subur dan makmur, kini menjadi supermarket musibah. Negeri kita yang damai dan sentosa, kini penuh dengan orang-orang yang tidak peduli terhadap rakyat.

 

Said Ramadhan, salah satu tangan kanan Imam Syahid Hasan Al Banna, pernah berkunjung ke Dewan Dakwah Jakarta di zaman M. Natsir.

 

Saat itu mubaligh dan ulama Indonesia bertanya kepada beliau, “Bagaimana Indonesia ini sekarang, banyak yang munafik, banyak yang tidak taat, dan banyak yang jauh dari agama?”

 

Dengan tenang Said Ramadhan menjawab, “Montir atau teknisi itu bermanfaat karena ada TV yang rusak, ada radio yang rusak, sehingga mereka memperbaikinya!”

 

“Begitu juga dengan kalian, tugas kalian mendakwahi dan memperbaiki mereka!”

 

Singkat dan begitu mengena jawaban dari Said Ramadhan. Benar juga! Ya itulah tugas ulama untuk memperbaiki ummat!

 

Ulama juga memiliki peran sebagai ‘ulul albab’. Dan sebagai ummat pun kita juga harus memuliakan ulama.

 

Pahit memang kenyataan yang terjadi saat ini. Ketika ulama-ulama di Indonesia dijadikan bahan lawakan di media. Mereka dijadikan guyonan. Ditiru-tirukan. Aku teringat beberapa tahun yang lalu ketika sebuah program di salah satu televisi swasta menampilkan sosok seorang ulama bersorban dengan membawa remote. Setelah menekan remote, waktu seolah berhenti. Dia pun kemudian mulai berbicara menirukan gaya bicara sang ulama tersebut.

 

Belum lagi ketika ada yang menirukan ulama yang memiliki nama akhir MZ. Dia menirukan gaya sang ulama kemudian berkata, “Kami 28 bersaudara. Saya yang ke-28. Karenanya nama saya MZ. Yang pertama namanya MA, yang kedua namanya MB, dan seterusnya. Nah, yang paling suka ngomong itu yang ketiga, MC.” Semua pun tertawa.

 

Rasa-rasanya ulama seperti Buya Hamka, Abdulllah Syafi’i, dan ulama-ulama terdahulu diperlakukan dengan sangat hormat.

 

Apakah ulama-ulama kita saat ini sudah kehilangan integritasnya? Ataukah kita yang sudah kelewatan dalam bersikap?

 

Kembali ke Nasuha dan Ridwan.

 

Permintaan atau doa kepada Allah seharusnya di awali dengan pengakuan dosa. Seharusnya bangsa Indonesia melakukan taubat akbar! Mohon ampun kepada Allah. Dari presiden, menteri, pejabat-pejabar eselon negara, sampai tukang becak, marilah sama-sama bertaubat kepada Allah. Kita kembali kepada Allah. Ga mau taubat? Atau ada yang protes membaca tulisan ini untuk menolah taubat?

 

Mari kita sama-sama menjadi ‘ulul albab’ lagi. Kita tentunya mendengar kisah Nabi Adam as dan Siti Hawa. Sadarkah kita bahwa Nabi Adam as dan Siti Hawa hanya memiliki satu kesalahan, yaitu memakan buah khuldi.

 

Langsung saja Nabi Adam as dan Siti Hawa dikeluarkan dari surga oleh Allah SWT.

 

Dosa kita ada berapa ya? Tapi begitu PD-nya kita bahwa kita akan masuk surga Allah SWT.

 

Terkadang ada hal yang kita lupakan, yaitu keseimbangan antara raja’ (harapan) dan khauf’ (rasa khawatir dan takut). Sering kita berat sebelah kepada raja’. Kita berharap begitu tinggi. Tidak salah! Nabi pun mengajarkan untuk berharap kepada surga yang paling tinggi, firdaus. Tapi kenyataannya, kita lupa dengan khauf. Kita tidak takut terhadap adzab Allah SWT.

 

Setelah Nabi Adam as dan Siti Hawa turun ke bumi, yang dilakukan adalah bertaubat, mengakui kesalahan. Doa yang begitu indah diabadikan Allah ‘Aza wa Jalla di dalam surat Al A’raf ayat 23, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” Tentu sudah hafal bukan?

 

Mengakui kesalahan adalah tahapan pertama dari taubat sedangkan tahapan kedua adalah penyesalan atas dosa yang kita kerjakan.

 

Allah berfirman di dalam surat As Sajdah ayat 12, “Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia, kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.'”

 

Ya Allah, ampuni kami. Kembalikan kami ke dunia. Kami akan ber-Islam. Kami akan menyembah Engkau. Kami akan memakmurkan masjid. Kami akan berbakti kepada orang tua. Kami akan shalat, puasa, zakat. Kami tidak akan berghibah dan tidak memfitnah. Kami akan berjilbab dan menutup aurat. Kami tidak akan memakan harta anak yatim. Dan seterusnya.

 

Ah, itu penyesalan yang terlambat. Tidak berguna penyesalan saat itu. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang terlambat dalam menyesali diri.

 

Tahapan terakhir taubat adalah tidak mengulangi dosa yang pernah kita kerjakan. Ini bagian yang paling berat. Orang-orang bertaqwa adalah orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka segera ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu. (QS Ali Imran : 135)

 

Sungguh indah janji Allah bagi orang-orang yang melakukan taubat nasuha. Allah SWT melukiskannya di dalam surat At Tahrim ayat 8, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang beriman yang bersama dia, cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.”

 

Itu pesan dari pencetak gol pertama Indonesia, Nasuha. Setelah Nasuha, Ridwan akan datang.

 

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, akan mendapatkan surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan mereka mendapat tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan  keridhaan Allah (Ridwan num minallah) adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.” QS At Taubah : 72

 

Itulah keberuntungan yang besar! Itulah kemenangan yang besar!

 

Ya Allah, jadikanlah kami ‘ulul albab’ ,,, Jadikanlah kami orang-orang yang bertaqwa …

 

Semoga Allah ridha …

 

Istiku memanggilku, “Abi sayang, belum bobo, Bi?” Aku pun kembali ke kamar. Waj’alna laila libasa. Alhamdulillah.

 

Muhammad Salman Alfatih – Tim Moodis,

di bawah pijar purnama, di batas AsiaOceania

 

 

 

Catatan:

 

*bergeming berarti tidak bergerak. Sering orang salah dengan menuliskan ‘tidak bergeming’ yang berarti ‘tidak tidak bergerak’, yang berarti ‘bergerak’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: