Dawai-dawai Cinta

Entah berapa lirik lagi yang harus kutulis. Entah berapa nada lagi yang harus kurangkai. Puluhan tahun aku jalani hidupku sebagai seorang pembuat lagu. Tidak sedikit penyanyi yang meminta aku untuk membuatkan lagu untuk mereka. Banyak juga produser film yang menawarkan kontrak bernilai ratusan juta rupiah agar aku yang menggarap sound track film-film mereka.

 

Aku memiliki kebiasaan rutin tahunan. Setiap bulan Ramadhan, aku menolak semua kontrak. Aku hanya ingin konsentrasi penuh untuk penghambaan diriku kepada Tuhan Yang Maha Indah. Demikian dengan Ramadhan kali ini.

 

Malam ini begitu teduh. Syahdu. Aku yakin suasana itu dapat menambah kekhusyuan jamaah tarawih malam ini. Terlebih lagi Ramadhan kali ini sebuah kabar gembira datang untuk kami jamaah masjid. Setiap tarawih akan didatangkan hufaz quran untuk mengimami shalat kami. Satu malam satu juz. Alhamdulillah!

 

Sudah sekian malam tarawih kami begitu tentram. Khuysu. Damai. Tidak jarang imam menangis ketika mengimami kami. Pun aku ikut menangis walaupun aku tidak mengerti maksud ayat imam tersebut.

 

Ramadhan kali ini membuatku memiliki kebiasaan baru menjelang tidur. Membaca terjemah quran. Aku penasaran dengan ayat-ayat yang dibacakan imam sehingga imam menangis dalam shalatnya. “Om, aku sudah membaca terjemah quran dari juz 1 sampai juz 25. Hampir setahun aku melakukan itu, Om. Satu hari satu lembar quran terjemah. Lumayan, Om, aku jadi sedikit demi sedikit mengetahui isi dari quran, Om. Mudah-mudahan tahun ini aku bisa khatam membaca terjemah quran!” Ujar keponakanku yang baru pulang dari Belanda. Aku heran sama dia, program studi apa yang dia ambil di sana. Setahu aku di sana dia mengambil program master untuk teknik. Tapi sesampainya di Indonesia dia lebih banyak bicara agama. Entah.

 

Dan lagi-lagi malam ini sang imam menangis dengan tersedu-sedu. Derai air mata yang membasahi. Degup jantung yang begitu menyentak.

Aku mencoba membaca terjemah ayat yang dibacakan imam tadi. Ini malam ke lima. Surat An Nisa. Perlahan aku baca. Aku menangis lagi. Tak terasa air mata telah terjatuh membasahi pipi. Ayat-ayat akhir juz 5 surat An Nisa menggambarkan hukuman dan akhir yang buruk serta karakter orang-orang munafik.

 

“Dan tidaklah orang-orang munafik itu mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” Begitu kata Allah di ayat 142 surat An Nisa.

 

Bagaimana dengan diriku? Seberapa sering aku mengingat Allah? Apakah aku termasuk orang yang munafik, ya Allah? Bagaimana dengan orang-orang yang mendengar lagu hasil karyaku, ya Allah? Apa yang mereka pikirkan ketika mendengarkan lagu-laguku? Apakah mereka tetap ingat Engkau ya Allah saat mendengar lagu-laguku? Ya Allah, apakah aku membuat orang-orang menjadi lupa kepada-Mu dengan karya-karyaku? Ya Allah, aku telah membuat orang menjadi kaum munafik! Ampuni aku ya Allah, ya Rabb. Ya Allah, berikan aku kesempatan untuk menghasilkan karya-karya yang dapat membuat orang-orang menjadi ingat kepada-Mu ya Rabb …

 

Aku pun tersungkur. Bersujud. Menangis. Dan bertambah khusyu …

 

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.”

 

QS Ar Ra’d : 28

 

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”

 

QS Al Munafiqun : 9

 

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah sebanyak-banyaknya.”

 

QS Al Ahzab : 41

 

Bagaimana dengan kita?

 

Dunia sepertinya telah sangat dan sering memperdaya kita. Begitu tergesa-gesanya kita ketika telat ke kampus atau ke kantor, tapi tidak tergesa-gesa ketika qomat telah dikumandangkan.

 

Tidak ada yang salah dengan ‘berjuang maksimal untuk kehidupan dunia’ selama ‘akhirat juga tidak kita lupakan.’ Dan, salah tentunya jika ‘mengejar akhirat’ tapi ‘melupakan dunia.’

 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan akhirat dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia.”

 

QS Al Qhasas : 77

 

Kalau kita mau bicara seimbang berarti ‘tepat waktu sampai kampus atau kantor’ dan ‘tepat waktu memenuhi panggilan Allah.’

 

Bicara tentang panggilan Allah, seorang ustadz pernah berkata, jika kita terbiasa melaksanakan dengan baik panggilan Allah yang pertama dan kedua, maka kita akan dengan baik juga dalam menghadapi panggilan yang ketiga.

 

Panggilan yang pertama adalah panggilan shalat. Kemudian panggilan yang kedua adalah haji. Dan, panggilan yang terakhir adalah kematian.

 

Allahumma tsabitna ‘indal mauti bi laa ilaha illallah … Allahumma inna nas-aluka husnul khatimah wa na’udzubika min suul khatimah ,,, Amin Ya Rabb …

 

Aqulu qauli hadza wastaghfirullahu liy wa lakum ,,,

 

“Sesungguhnya istighfarku memerlukan satu istighfar lagi.”

 

Semoga Allah ridha ,,, Semoga Allah memberkahi … Semoga Allah mengampuni …

 

Fiamanillah,

 

– Tim Moodis –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: