Ketika Ketentuan Allah bertentangan dengan Logika

Ketika Ketentuan Allah bertentangan dengan logika

 

“….Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukup-kan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu….” (QS. Al-Maidah:3)

 

 

Bismillahirrahmaanirrahiim

 

Assalamu’alaykum wr wb.

 

.. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan…..

 

Prolog

Dalam artikelnya yang berjudul “Manusia untuk sebuah cita – cita”, Anis Matta menuliskan bahwa keislaman kaum muslimin saat ini banyak dibentuk oleh warisan lingkungan sosial, bukan dari pemahaman dan kesadaran yang mendalam tentang Islam itu sendiri.

 

Ada sebuah kejadian yang sedikit menggelitik. Beberapa minggu yang lalu Saya sedang berkunjung ke salah satu kedai minuman. Kebetulan waktu itu sudah masuk waktu shalat, maka Saya pun bertanya kepada salah satu pelayannya kalau – kalau disediakan tempat shalat. Ketika Saya bertanya kepada beliau, di depan Saya yang waktu itu insyaAllah menutup aurat dari ujung kepala sampai ujung kuku kaki, beliau pun menjawab “Tempat shalatnya ada Mba, tapi nggak ada mukenanya”. Saya pun tersenyum dan menjawab “Masih perlu mukena Mba?” sambil menunjukkan pakaian Saya dan tersenyum. Kemudian pelayannya pun hanya tersipu.

 

Kejadian seperti itu bukan yang pertama terjadi, dan mungkin dialami juga oleh muslimah lain. Hal tersebut membenarkan fakta tentang adanya suatu pola ibadah yang timbul bukan karena pemahaman, melainkan karena warisan lingkungan sosial. Warisannya adalah, kalau mau shalat, maka perempuan harus menggunakan mukena. Padahal pada hakikatnya yang diwajibkan adalah menutup aurat, bukan pakai mukenanya. Singkatnya, kalau sudah menutup aurat, kenapa harus pakai mukena? Kecuali kalau hanya untuk sekedar kenyamanan. Suatu fenomena yang menarik, namun miris di saat yang bersamaan.

 

Dari cerita pengantar tadi, semoga bisa tergambar bagaimana pemahaman Islam yang ada pada mayoritas muslim saat ini banyak sekali yang terbentuk dari budaya, warisan sosial, ataupun kebiasaan masyarakat. Sementara  Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sebagai sumber aslinya banyak terlupakan, sehingga lambat laun garis pemisah antara yang hak dan yang batil pun semakin bias.

Dari sana mulailah timbul pergeseran antara yang benar dan yang salah. Budaya yang tadinya disesuaikan dengan agama, sekarang justru berbalik seakan agama yang harus disesuaikan dengan kebudayaan. Kalau agama tidak sesuai dengan budaya/kebiasaan, maka agama menjadi sesuatu yang aneh atau salah. Padahal agama Islam-lah yang merupakan kebenaran yang hakiki. Dan akhirnya kebudayaan dan pemikiran masyarakat yang menjadi tolak ukur benar atau salahnya suatu hal, bukan lagi Al – Qur’an dan sunnah Rasululah. Semoga Allah tunjukkan jalan.

 

Mungkin inilah salah satu akar terhadap banyak permasalahan yang merebak di Masyarakat. Sebut saja isu pacaran yang merebak di kalangan masyarakat. Terlepas mau bagaimanapun tipe pacarannya, di Al-Qur’an sudah secara jelas memerintahkan untuk menjauhi dan melarang zina (QS.17:32 & QS.25:68) dan Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan ikatan apapun kecuali pernikahan dan khitbah. Namun, apa pembenaran yang berlaku? “Pacaran kan sudah biasa, jangan ekstrim deh”. Astaghfirullahal’adzim. (Catatan mengenai pacaran – ”Dan bagaimanapun Pacaran bukan untuk kita”)

 

Tidak kalah menariknya adalah isu batasan kepada siapa harus menutup aurat, isu yang banyak menimpa para kaum hawa. Pola pikir yang bersumber bukan dari pemahaman telah menimbulkan banyak salah persepsi tentang batasan menutup aurat. Banyak yang memahami bahwa batasan menutup aurat adalah ‘kecuali’ di dalam rumah atau di depan keluarga. Sungguh, Aisyah r.a pun menjaga hijab jika ada Sahabat yang memasuki rumah. Sungguh, tidak disebutkan batasan “keluarga” dalam Al – Qur’an. Batasan ‘kebolehan tidak menutup aurat’ secara spesifik diterangkan satu persatu dalam QS.24:31, pun batasan mahram di QS.4:23. Namun, sayangnya pemahaman yang banyak dipahami sebagian masyarakat adalah sesuai dengan kebiasaan ‘keluarga’, sehingga ketika hijab dijaga didepan sepupu atau ipar, tidak jarang para muslimah menerima komentar “fanatik atau ekstrem”. Sampai – sampai pernah ada seorang teman Saya yang ditunyai ikut kepada aliran apa, Astaghfirullahal’adzim.

Yang berusaha dijalankan hanyalah simply menjalani perintah Allah secara utuh, kaffah.

 

“Hai orang – orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (Kaffah), dan janganlah kamu turuti langkah – langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah: 208)

 

Ah, kalau tadi bersifat syar’i, ada yang lebih menuntut untuk dibenahi, yakni paradigma masyarakat yang ikut bergeser dalam menyikapi kehidupan. Konsep penciptaan manusia berkenaan dengan ibadah dan khalifah lambat laun semakin menjauh dari porosnya. Hidup seakan hanya untuk mencari rezeki, berkeluarga, dan bersosialisasi kemudian lupa hakikat penciptaan manusia pada mulanya.

 

Bukan jarang, pemikiran yang berkembang di masyarakat adalah cukup bagi seorang manusia untuk hanya shalat, mengaji, puasa, zakat. Sementara konsep ibadah sendiri adalah pengabdian sepenuhnya kepada Allah, 24 jam, dan mencakup seluruh aktivitas kehidupan manusia. Itulah salah satu hikmah Allah pun mengajarkan kita cara berdagang, cara bergaul, cara ber-rumah tangga, cara berpolitik, cara berbicara, dsb. Itu baru tugas manusia dari sisi ibadah, ‘Ibadullah (QS.51:56).

 

Lalu bagaimana tugas manusia dari sisi Khalifatullah? Peran besar yang terlupakan di antara sorak sorai hiburan dan kehidupan duniawi. Amanah besar yang tenggelam dalam gaung budaya masyarakat yang menyuarakan bahwa dalam hidup itu harus “biasa – biasa saja, jangan berlebih – lebihan”. Maka peran untuk menegakkan Islam pun di anggap suatu pilihan atau identik dengan terorisme dan aliran sesat, sementara sadar atau tidak peran itu akan dimintai pertanggungjawabkan di hari akhir nanti. Dalam keterpurukan umat sekarang, sudah siapkah kita jika nanti ditanyai “Apa yang sudah kamu lakukan untuk menegakkan agama Allah?”

 

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ini’……..” (QS. Al – Baqarah:30)

 

***

 

Ra’yu ‘ala wahyu. Kepala di atas Wahyu. Logika di atas Wahyu.

Pola pemikiran yang membudaya di masyarakat lahir dari logika – logika berpikir para manusia dengan segala argumentasi dan kecerdasannya. Pendapat melahirkan berbagai perbedaan karena Allah ciptakan setiap kepala dengan keunikannya masing – masing. Itulah salah satu hikmah ayat super power:

 

“Kebenaran (haq) itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (Al Baqarah 2 : 147)

 

Maka dari berbagai perbedaan pendapat itu, firman Allah-lah yang benar. Allah-lah yang menjawab segala permasalah kehidupan. Allah-lah Sang Malik yang mentukan hukum hakam benar salahnya suatu perbuatan.

Untuk itulah Al – Qur’an, kalamullah, sepatutnya dijadikan pedoman umat Islam, bukan kebudayaan atau kebiasaan masyarakat yang bersumber dari logika dan warisan nenek moyang. Jika memaksakan mengikuti logika, niscaya akan  banyak pertentangan yang muncul antara hukum Allah dan logika manusia. Karena pada dasarnya agama Islam bukanlah agama Logika. Ilmu Allah, Sang Khalik, terlalu Luas sehingga tidak mampu dicerna oleh logika manusia, para makhluk. Bahkan Zat Allah pun kita tidak mampu membayangkannya. Maka seberapa beranikah kita menolak hukum Allah atas dasar logika yang Allah juga menciptakannya?

 

***

 

Penyangkalan demi penyangkalan.

Pembenaran demi pembenaran.

Ikhwah Fillah, penyangkalan dan berbagai pembenaran mungkin akan senantiasa menggoda dan menjadi ujian yang tidak mudah. Kecenderungan kuatnya dorongan masyarakat dengan dalih nenek moyang dan kebiasaan mungkin akan memberatkan langkah. Semoga kita semua sama – sama mampu bersabar dalam ketaatan kepadaNya dan membenahi umat dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan sekolah/kerja, dst.

 

Semoga masyarakat kita yang mengaku muslim tidak akan mengulangi kesalahan umat terdahulu, umat Jahiliyah penyembah berhala. Umat Jahiliyah yang menolak dan mengangap sesat ajaran Allah dengan dalih “karena Islam bertentangan dengan kebiasaan kami, karena menyembah berhala-lah yang menjadi budaya yang diajarkan nenek moyang kami”. Na’udzubillahimindzalik.

 

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 8)

 

Allahu’alam. Sesungguhnya Allah – lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Memiliki Ilmu.

 

Semoga ridha, berkah, dan ampunanNya senantiasa mengiringi… dalam setiap aliran darah, desah nafas, dan ayunan langkah kaki kita…

 

 

03.01.11

 

~ Tim Moodis ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: